Salah Paham Yusril dan Pepih


Pak Ahok, Dengarlah Apa Kata Yusril

Kalau kolom di atas dibaca dengan lebih teliti, sebenarnya ada Blunder besar yang dibuat oleh si Penulis. Sejak dari awal tulisan, sudah terlihat bahwa penulis kolom sebenarnya masih kurang paham dan bahkan salah mengartikan ungkapan yang disampaikan oleh Yusril. Dengan rapi dan terstruktur, lewat kolom yang ditulisnya ini, penulis kemudian menggiring opini Pembaca untuk meyakini bahwa Fotokopi KTP memang merupakan Syarat utama buat Pengajuan Calon Perseorangan, baik untuk Gubernur/Wakil Gubernur maupun untuk Bupati/Wakil Bupati.
Argumen penulis kemudian coba diperkuat dengan mengutip beberapa aturan perundang-undangan, di mana "Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diberikan kepada 1 (satu) pasangan calon perseorangan." Berdasarkan ketentuan tersebut, masih menurut si penulis, Fotokopi KTP yang sudah dikumpulkan Teman Ahok sebagai syarat pengajuan Ahok menjadi DKI-1 hanyalah kesia-sia an belaka, dan tentunya harus kembali diulang. Alasannya? Karna Pengumpulan Fotokopi KTP itu baru ditujukan untuk Pengajuan Ahok Seorang. Padahal, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang ia kutip itu, dukungan harus diberikan kepada Satu Pasang Calon. Artinya, pengumpulan Fotokopi KTP harus dilakukan untuk Satu Paket Calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Tidak kurang, tidak lebih.
Andai si penulis lebih cermat dalam membaca ketentuan perundang-undangan yang sebenarnya sudah dia kutip, dia tidak akan semudah itu terjebak pada pemahaman sempit sampai terjerumus pada sebuah kesimpulan yang salah. Seperti yang ia kutip sendiri dalam tulisannya, "Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibuat dalam bentuk surat dukungan yang disertai dengan fotokopi kartu tanda penduduk elektronik, kartu keluarga, paspor, dan atau identitas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.", terlihat jelas bahwa dukungan kepada Pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur bukan berbentuk Fotokopi KTP, tapi berbentuk SURAT DUKUNGAN. Di dalam surat dukungan itulah nanti ada klausul siapa nama Pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur yang ia dukung. Sedangkan Fotokopi KTP sendiri merupakan lampiran dukungan untuk menunjukkan bahwa si Penandatangan Surat Dukungan tersebut bukan karakter fiktif dan memang benar-benar ada. Jadi, ketika Teman Ahok bilang bahwa mereka sudah mengumpulkan ratusan ribu KTP untuk mendukung Ahok, usaha mereka jelas tidak sia-sia, karena bentuk dukungannya memang bukan lewat Fotokopi KTP. Fotokopi KTP yang sudah mereka peroleh tersebut bisa dijadikan bahan untuk pemetaan dukungan. Sehingga, ketika nanti Ahok sudah memutuskan siapa nama calon pendampingnya, Teman Ahok tinggal bergerak kembali, tentunya lewat masing-masing Korlap nya, untuk menyebarkan Surat Dukungan kepada setiap orang yang sebelumnya sudah mengumpulkan Fotokopi KTP. Pekerjaan ini tentunya akan lebih mudah, karna Teman Ahok sudah punya basis data pemetaan dukungan yang cukup Rinci.
Kembali ke Ungkapan Yusril yang dikutip oleh si Penulis. Kenapa Yusril mengungkapkan hal ini jauh-jauh hari sebelum pendaftaran Calon dimulai? Padahal, seperti yang diungkapkan oleh penulis kolom sendiri, Informasi dari Yusril itu sebenarnya bisa disimpan oleh Yusril sebagai Senjata Pamungkas untuk menjegal Ahok di detik-detik terakhir. Sehingga, masih menurut penulis, dengan tindakannya tersebut, Yusril dia anggap sudah sangat berbaik hati kepada Ahok.
Sebenarnya, ungkapan Yusril tersebut tidak bisa dilepaskan dari milieu politik yang ada sekarang. Yusril sebenarnya sudah tahu dan sadar bahwa Teman Ahok yang saat ini tengah menggalang Dukungan untuk Ahok agar jagoannya tersebut bisa melenggang menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta lewat Jalur Perseorangan, sudah pasti mempertimbangkan tata cara dan tata laksana serta segala macam syarat dukungan seperti yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Karna itu, tidak ada manfaatnya juga buat Yusril untuk menyatakan hal ini pada saat pendaftaran sudah dibuka nanti. Karna itu, menyanggah pandangan dari Penulis, Yusril saat ini tidak sedang berbaik hati dengan mengungkapkan celah yang bisa menjegal proses pencalonan Ahok itu. Malah, Yusril tengah melancarkan Perang Psikologis kepada lawannya. Atau bahkan, bisa saja Yusril sedang PDKT dengan Ahok. Siapa Tahu.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Salah Paham Yusril dan Pepih"

Post a Comment