Antara Fiksi dan Fakta

Melihat Kartun di bawah ini, saya jadi ingat Tulisan Sapardi dalam Kita dan Sastra Dunia. Di sana Sapardi menulis, “Ketrampilan pengarang mempergunakan bahasanya itulah bahkan yang kadang-kadang membuat kita menganggap bahwa dunia rekaan itu lebih nyata dari dunia yang kita hidupi sehari-hari. Bahwa fiksi itu lebih nyata dari fakta.” Di satu sisi Sapardi benar, karna ia menarik kesimpulan tersebut dari sudut pandang Penulis. Namun, ketrampilan penulis bukanlah penyebab utama dan satu-satunya alasan yang membuat seorang Pembaca terjerumus sampai menganggap sebuah Fiksi sebagai Fakta, atau bahkan lebih dari itu, menganggap “fiksi lebih nyata dari fakta”, seperti yang diungkapkan Sapardi.
Dari sudut pandang Pembaca, ada faktor Preferensi dan Keyakinan Personal yang menjadi alasan atau sebab yang membuat si Pembaca menganggap sebuah tulisan atau kisah fiktif yang dihadirkan oleh seorang penulis sebagai sebuah fakta keseharian yang punya nilai kebenaran. Begitupun sebaliknya, faktor keyakinan personal pembaca ini juga bisa melenakan seseorang sampai membuat seorang Pembaca terjebak pada sebuah delusi hingga menganggap sebuah fakta yang ada dalam tulisan sebagai sebuah rekaan. Akhirnya, Fakta yang tidak sejalan dengan keyakinan dan pandangannya akan ia kaburkan dengan menganggapnya sebagai kebohongan, dan Fiksi yang sesuai dan mendukung semua keyakinannya akhirnya dipercaya sebagai kebenaran.
Pertukaran antara Fiksi dengan Fakta atau Fakta dengan Fiksi inilah yang sekarang menjadi realitas keseharian. Ada contoh menarik tentang hal ini. Bagi para penganjur Faham Khilafah seperti yang digawangi oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir, Khilafah adalah Keniscayaan. Mereka dengan bangganya – dan yakinnya, menyatakan bahwa Khilafah adalah satu-satunya obat Mujarab untuk Semua Penyakit yang menimpa umat Islam saat ini, seperti Kebodohan, Keterjajahan, Kemiskinan dan sebagainya. Ketika Khilafah tegak kembali, semua penyakit tersebut dengan sendirinya akan sirna. Untuk mendukung keyakinannya itu, mereka mengutip beberapa Hadist Nabi yang berisi Nubuwat akan keniscayaan Tegaknya Khilafah pada suatu hari nanti. Sayangnya, seperti yang dijelaskan dengan cukup rinci oleh Romo Nadirsyah Hossein, kesahihan hadist tersebut kurang bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, tidak berhenti di situ saja, untuk mencari Legitimasi akan keyakinannya itu, mereka juga mengajukan laporan dari CIA yang memprediksi bahwa pada tahun 2020 nanti Khilafah akan tegak Kembali di muka bumi.
Padahal, kalau kamerad-kamerad HT mau membaca tulisan CIA itu secara lebih lengkap, selain Tegaknya Khilafah, masih ada 3 (Tiga) Skenario lain yang bakal terjadi pada tahun 2020 nanti; Davos World, Pax Americana dan Cycle of Fear. Bahkan, masih menurut laporan yang sama, meskipun skenario-skenario buatan CIA, termasuk skenario tegaknya Khilafah itu akhirnya terbukti, Amiriki yang begitu dibenci oleh kawan-kawan HT tetap saja akan berjaya. Dari sini kemudian Romo Nadirsyah menulis dengan penuh Keprihatinan, “Kerjaan CIA kan ya memang begitu … kok bisa-bisanya kawan-kawan pejuang pro-khilafah percaya sama CIA. Bukankah prestasi terbesar CIA adalah saat mengatakan di Iraq ada weapon of mass destruction (WMD)? Kita tahu ternyata WMD memang fiktif belaka. Yah jangan-jangan khilafah juga bakalan bernasib sama: fiktif.”
Keprihatinan Romo Nadirsyah memang sangat masuk akal. Sayangnya, untuk orang-orang yang getol mencari pembenaran akan pandangan dan keyakinannya tanpa mementingkan proses verifikasi kebenaran, Fiksi atau Fakta, sejauh hal itu bisa melegitimasi keyakinannya tersebut, dengan serta merta akan mereka percaya dan yakini sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Dalam kasus Tere Liye, apabila Fiksi yang dianggap sebagai Fakta itu direpetisi sedemikian rupa, disebarluaskan sampai anak cucu, dan dimaklumi oleh mereka yang sebenarnya tahu dan berilmu, bisa jadi fiksi ini akan tertulis sebagai sebuah kebenaran yang maha esa. Cilaka!


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Antara Fiksi dan Fakta"

Post a Comment