Berani Kawin : Catatan Kecil Untuk Vici dan Ning

Soekarno dan Pernikahan merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Bukan hanya karena Kegemaran Soekarno untuk menikah, tetapi Soekarno kerap pula menggunakan idiom-idiom Pernikahan dalam penyampaian gagasan-gagasannya tentang Konsep Kenegaraan. Tidak perlu menelisik terlampau jauh sampai kepada dukungannya terhadap Bentuk Negara Integralistik yang disampaikan Soepomo serta polemiknya dengan Hatta tentang Pencantuman Hak Asasi Warga Negara dalam Hukum Dasar yang katanya terlalu Individualis dan bertentangan dengan faham Negara Kekeluargaan itu, dengan hanya membaca risalah pidato Soekarno yang ia sampaikan di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 saja, kita sudah bisa melihat contoh nyata dari fenomenon Bung besar ini.
Dalam pidato masyhurnya yang dikenal dengan sebutan Pidato Lahirnya Pancasila itu, Soekarno mengawali paparan tentang Dasar Negara dengan menguraikan makna dari istilah Kemerdekaan terlebih dahulu. Soekarno tergerak untuk menjelaskan perihal Kemerdekaan –atau yang kemudian ia sebut dengan istilah Politieke Onafhankelijkheid– karna ia melihat ada beberapa koleganya di BPUPKI yang dianggapnya masih terlalu gentar, gamang dan belum siap untuk memerdekakan Indonesia dari Kolonialisme Jepang. Ia menganggap koleganya tersebut terlalu zwaarwichtig akan perkara-perkara kecil. Terlalu memikirkan dan mengurusi hal-hal yang njlimet, sampai-sampai mereka beranggapan bahwa Indonesia harus mempersiapkan ubo rampe ini dan itu terlebih dahulu sebelum memproklamasikan kemerdekaannya. Saking geramnya terhadap pandangan ini, Soekarno kemudian bilang, “Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai njlimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka … sampai di lubang kubur!”
Untuk menyentil para kolega yang mempunyai pandangan mini tersebut, Soekarno kemudian mengibaratkan Kemerdekaan dengan sebuah Perkawinan/Pernikahan. Perlu diberikan catatan di sini bahwa dari sisi Hukum, Kawin dan Nikah merupakan dua istilah yang memiliki satu makna (vide UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Dalam hal perkawinan ini, lanjut Soekarno, manusia bisa dikelompokkan kedalam tiga golongan. Golongan yang takut kawin, golongan yang ragu-ragu atau gamang untuk kawin dan golongan yang berani kawin. Golongan pertama ia simbolkan dengan tokoh Ndoro. Ndoro yang sebenarnya takut untuk kawin dan baru berani kawin setelah memiliki gaji 500 Gulden. Ndoro yang baru berani kawin setelah mempunyai rumah gedung, permadani, lampu listrik, tempat tidur yang mentul-mentul, meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, dan sendok garpu perak satu kaset. Ndoro yang berani menikah kalau sudah mempunyai ini dan itu, bahkan kalau sudah mempunyai kinder-uitzet atau perlengkapan Bayi komplit.
Golongan kedua, atau Golongan yang gamang untuk kawin disimbolkan oleh Soekarno dengan tokoh Klerk atau Tukang. Si Klerk, kata Soekarno, masih gamang untuk kawin karna mereka baru mau kawin kalau sudah mempunyai meja satu, kursi empat, dan satu tempat tidur. Lebih sederhana daripada si Ndoro. Tetapi, masih menurut Soekarno, diantara keduanya, masih ada satu golongan lagi, golongan berani kawin atau yang kemudian ia simbolkan dengan tokoh Marhaen. Menurut Soekarno, Marhaen tidak perlu menunggu ini itu harus siap terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk kawin. Bahkan, si Marhaen sudah berani kawin walaupun mereka baru punya satu tikar, satu gubuk dan satu periuk. Soekarno lalu menyampaikan bahwa Rumah yang besar, perabotan yang mewah dan timbunan uang yang bertumpuk-tumpuk tidak menjamin kebahagiaan pasangan. Bisa jadi si Marhaen yang bermodal tikar dan periuk tersebut lebih bisa merasakan kebahagiaan daripada si Ndoro maupun si Klerk. Ungkapan Soekarno ini disampaikan untuk menunjukkan keberpihakan dan kecondongannya kepada pandangan si Marhaen yang begitu berani. Karna menurut Soekarno, yang paling penting adalah tekad hati.
Selain itu, Soekarno lebih condong kepada Pandangan si Marhaen daripada pandangan si Klerk maupun si Ndoro, karena bagi Soekarno, Kemerdekaan yang ia ibaratkan dengan Pernikahan itu hanyalah sekadar Jembatan. Lebih tepatnya, Jembatan Emas. Sebagai implikasi dari pandangan Soekarno ini, bisa disimpulkan bahwa menikah itu yang penting, ya, Menikah dulu. Yang penting, ya, Kawin dulu. Tak perlu terlalu njlimet memikirkan kesiapan ekonomi. Nanti, setelah jembatan Pernikahan itu terbangun, di seberang jembatan sana lah pasangan suami dan istri itu secara bersama-sama mulai melengkapi segala hal yang dipandangnya masih kurang. Nanti di seberang jembatan itu lah si suami dan si istri berjuang bersama untuk memenuhi segala macam hal yang dianggapnya perlu. Atau dalam bahasanya Kang Emil, “Cari pasangan itu jangan muluk-muluk. Biar seru menikmati pernikahan. Ngerasain ngontrak, ngerasain roller coaster kehidupan sambil nangis, ketawa, nangis lagi, ketawa lagi, sambil saling berpelukan menguatkan. Indah tauuukkk!”
Seperti Pernikahan, bagi Soekarno, pokoknya Indonesia harus merdeka dahulu, pokoknya kita harus bikin jembatan dahulu, tak perlu meributkan perkara yang njlimet, tak perlu merisaukan kenyataan bahwa orang-orang Indonesia mayoritas masih buta huruf, bodoh, miskin, sengsara. Nanti, ketika sudah merdeka, ketika kita sudah mendapatkan Politieke Onafhankelijkheid, ketika sudah terbangun jembatan emas kemerdekaan, di seberang jembatan itulah baru dilakukan pembangunan untuk melengkapi apa yang belum ada. Termasuk untuk Mendidik warga negara yang masih buta huruf. Termasuk untuk menyediakan kebutuhan yang diperlukan oleh mereka yang membutuhkan. Termasuk pula untuk menggalakkan berbagai macam usaha yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga negara yang masih sengsara.
Akan tetapi, meminjam istilah yang dipakai oleh Soekarno untuk mengomentari Ide Kebangsaan dari Ernest Renan maupun Otto Bauer, pandangan Soekarno terkait tiga pengelompokan manusia itu bagi saya sudah “verouderd”, sudah tua, alias sudah Kuno. Dahulu, Bisa jadi kondisi Ekonomi seseorang merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap keberanian orang tersebut untuk memutuskan mau kawin atau menunda kawin. Beda dengan sekarang. Di zaman kekinian ini, Faktor Kesiapan Ekonomi bukanlah faktor utama. Bisa jadi seseorang sudah siap secara ekonomi, sudah mapan, sudah punya rumah beserta segala macam perlengkapan rumah tangga. Pasangannya pun juga sudah ada, bahkan keduanya saling cocok dan saling mencintai. Tapi, karna keduanya berbeda agama –atau bahkan berbeda sekte, akhirnya nyalinya menciut. Keberaniannya menyusut. Karna bagi mereka, menghadapi kenyataan penolakan dari orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar ternyata lebih menakutkan daripada menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.
Pandangan Soekarno tentang Kemerdekaan dan Pernikahan ini mengarahkan ingatan saya pada dua orang kawan yang baru menikah tadi pagi, Vici dan Ning. Bagi saya, Vici dan Ning adalah contoh terbaik dari kecondongan Soekarno terhadap tiga pengelompokan manusia yang ia bikin. Vici dan Ning juga merupakan contoh sempurna bahwa keberanian dan tekat yang kuat merupakan modal paling penting untuk memulai kehidupan berdua. Keduanya pun memeluk agama yang sama. Hanya kelaminnya saja yang beda. Maka, dalam hal ini, tidak ada yang perlu dikhawatiran dari mereka. Karna itu, dengan segala hormat, saya ucapkan, Selamat Kawin Mawin, Vici dan Ning. Selamat Berbahagia. Konon Sokrates pernah bilang, “By all means, marry. If you get a good wife, you'll become happy; if you get a bad one, you'll become a philosopher.” Kawinlah. Kalau kamu dapat Istri yang baik, kamu akan Bahagia. Sebaliknya, kalau kamu dapat Istri yang Buruk, kamu akan menjadi seorang Filsuf. Tuhan tahu Ci, Ning, Kalian itu Nggak Bakat Jadi Filsuf. Makanya, kalian berdua dipertemukan oleh Tuhan, supaya masing-masing dari Kalian Nggak Perlu jadi sosok yang mikirnya serba Njlimet itu. Supaya kalian berdua bisa berbahagia. Selamanya.

**Depok, 6 Maret 2016





Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Berani Kawin : Catatan Kecil Untuk Vici dan Ning"

Post a Comment