Tentang Perempuan dan Sampah

Perempuan dan Sampah
Sederhana, tapi punya Gaya. Kalau Iko sempat baca kumpulan tulisan Afri yang ia unggah di blog pribadinya ini, iko akan langsung menangkap kesan serupa. Tulisan afri tergolong sederhana. Bisa dibilang, karena kesederhanaannya itu pula, tulisannya menjadi renyah dan enak dibaca. Ditambah dengan gaya penuturannya yang runtut dan terstruktur, serta lancarnya artikulasi pemikiran yang ia tuangkan lewat kalimat-kalimat yang ia tulis, membuat tulisan-tulisan Afri menjadi semakin bertambah menarik. Walaupun sebagian besar tulisannya masuk dalam kategori “Curhatan”, seperti yang diakui sendiri oleh penulisnya, tapi curhatan-curhatan yang ia abadikan dalam tulisannya ini tergolong bersih dari kesan Sampah dan bahkan cenderung informatif. Ibaratnya, sambil curhat lewat tulisan, pada saat yang bersamaan afri dengan baik hati tengah memberikan pula kepingan-kepingan pengetahuan baru kepada pembacanya. Dan di atas itu semua, apa yang ditulis Afri ini, seperti ciri tulisan-tulisan lain yang juga tergolong bagus, tidak terkesan menggurui. Malahan tulisan-tulisan Afri ini mengajak iko untuk berfikir lebih dalam tentang materi yang ia sampaikan. Iko diajak berdiskusi dengan diri Iko sendiri.
Tulisan berjudul Perempuan dan Sampah ini misalnya. Sebenarnya tidak ada yang baru dari apa yang ia tulis. Sudah banyak tulisan-tulisan lain yang beredar di jagat sosial media yang juga membahas perkara ini, bahkan dengan lebih rinci dan komprehensif. Tapi itu bukan soal. Kadang, ide yang disampaikan secara berbusa-busa pun belum tentu bisa ditangkap dengan baik oleh para pendengar atau pembaca yang disasar. Malahan, yang sederhana kadang lebih mengena. Yang sederhana kadang lebih bermakna. Dalam konteks inilah tulisan Afri punya nilai penting. Seperti tulisan-tulisan berbau curhatannya yang lain, tulisan ini pun juga ditulis dengan sederhana pula. Bahkan terkesan sangat sederhana.
Kenapa sangat sederhana?
Pertama, Afri menyuguhkan sebuah data statistik yang cenderung asal comot yang kemudian ia jadikan fondasi untuk menyusun argumennya. Dalam istilah lain, “sing penting onok”. Tapi, ia cukup berhasil dengan upayanya itu. Sajian Data statistik yang ia suguhkan tidak rumit, gampang dicerna, dan mampu memaksa kita untuk meyakini bahwa apa yang dia sampaikan memang punya urgensi dan nilai penting. Bahwa Sampah Pembalut itu memang sebuah Ancaman. Bahwa Perempuan adalah mitraliyur dari ancaman itu sendiri, dan Bahwa kita harus bertindak secara tepat untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlihat nyata di depan mata.
Sayang, afri hanya menyampaikan faktor ancaman itu dari segi kuantitas atau jumlah Sampah Pembalut saja. Padahal, dengan latar belakang keilmuan Afri sebagai Perawat, harusnya dia juga bisa membahas dengan cukup rinci mengenai Faktor Ancaman lain yang berasal dari unsur berbahaya yang terkandung dalam produk sampah Pembalut itu sendiri. Penjelasan mengenai kandungan berbahaya dari sampah pembalut ini penting, karena kandungan itulah yang membedakan sampah pembalut dengan sampah-sampah lain yang ada. Kandungan Itulah yang mengharuskan adanya perlakuan khusus terhadap sampah pembalut. Karena perlakuan terhadap sampah jenis ini tidak bisa disamakan dengan perlakuan terhadap sampah-sampah dari jenis lain. Oleh sebab itu, ketika sampah berbahaya ini tercecer dalam jumlah milyaran, seperti yang disajikan afri lewat data statistikanya itu, Gusti nu Agung, apa jadinya kehidupan kita nantinya?
Kedua, dalam kapasitasnya sebagai seorang perempuan, Afri secara tidak langsung mendukung hegemoni lelaki terhadap kaumnya lewat penerimaannya akan produk budaya patriarkhi berupa domestikasi peran dan fungsi Perempuan. Seolah tak ada beban buat afri, ia, dengan pola kearifan tertentu, menganggap domestikasi ini sebagai sebuah fitrah, sebagai Sunnatullah, yang harus diterima. Para feminis barangkali akan mencemooh pilihan Afri ini, tapi Afri akan menganggap cemoohan mereka sebagai desiran angin yang numpang lewat di telinganya.
Ketiga, Afri tidak mau terjebak untuk berfikir terlalu rumit demi merumuskan kesimpulan beserta saran untuk mengatasi problematika sampah yang tengah ia bahas. Karna itu, kesimpulan yang ia tarik beserta saran yang coba ia ajukan bersifat sangat sederhana. Namun dalam sifat sederhananya itu, saran Afri malah cenderung aplikatif dan bisa langsung diterapkan. Orang yang tidak cukup mengenal Afri, setelah membaca keseluruhan isi dari tulisan Afri sampai kepada saran yang ia ajukan, pasti punya harapan lebih. Harusnya saran Afri bisa merambah sampai kepada aspek kebijakan, dan sebagainya, dan seterusnya. Namun, orang yang mengenal Afri dengan cukup dekat, pasti akan memaklumi saran yang ia ajukan itu. Afri hidup dengan pemikiran yang sederhana, tulisannya juga sederhana, maka saran yang ia ajukan pun juga cenderung sederhana. Tapi, inilah kekuatan Afri yang sebenarnya. Dan bisa jadi, dengan kesederhanaannya itu, Afri juga tengah menanti Calon Suami yang Sederhana Pula. Seperti Fadrik Aziz Firdausi ini misalnya. Haha

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tentang Perempuan dan Sampah"

Post a Comment