Gunung dan Kemunafikan

Saking muaknya dengan kondisi perpolitikan Indonesia kala itu, Hok Gie memilih untuk menyendiri. Naik ke puncak gunung-gunung tinggi di Indonesia, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Hok Gie merasa gerah dan gelisah dengan segala pernak-pernik realitas yang ada di hadapannya. Malangnya, Hok Gie merasa menanggung beban kegelisahan dan kegerahan itu sendirian. Hok Gie merasa tidak ada satupun diantara semua orang yang dia kenal yang bisa memahaminya. “Nobody can see the trouble I see, nobody knows my sorrow”, kata Hok Gie. Bahkan, Sang Ibu sekalipun, menurut Hok Gie, tidak pernah bisa memahami kegelisahan dan gejolak hati yang ia rasakan itu. Sampai-sampai, ketika sang Ibu mempertanyakan semua pilihan dan tindakan yang ia ambil, Hok Gie hanya tersenyum dan berkata mesra kepada ibunya, “Ah, mama tidak mengerti”.
Menyedihkan.
Walaupun hidupnya diliputi oleh kegelisahan akut, Hok Gie punya mimpi besar. Saat itu, Hok Gie sempat bermimpi, “Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, stop semua kemunafikan! Stop semua pembunuhan atas nama apapun. Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun.” Selain itu, Hok Gie juga memimpikan bahwa suatu saat, setiap manusia, tanpa terkecuali, bisa melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Sama seperti impian manusia-manusia visioner lain, mimpi Hok Gie ini tidak terlepas dari zeitgeist yang melingkupinya. Ia memimpikan hal itu di tengah arus utama kehidupan yang penuh dengan kemunafikan.
Hok Gie sebenarnya sadar, bahwa impiannya itu hanyalah sekadar impian yang utopis. Dia tahu bahwa saat itu kemunafikan merupakan jalan hidup satu-satunya yang tidak bisa ditolak. Kemunafikan adalah jerat yang begitu kuat dan mengakar erat. Oleh sebab itu, dia kemudian berkata, “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”. Hok Gie tidak bisa menampik, dengan kuatnya jerat kemunafikan itu, manusia hanya bisa menerima dan ikut hanyut dalam arus, pusaran dan gelombangnya. Atau, kalau ada sedikit kekuatan, dia bisa saja bertindak apatis. Membiarkan semua hal itu berlangsung dihadapannya, tanpa bisa mencegah, tanpa bisa melawan. Masa bodoh dengan semuanya. Tetapi, sekuat apapun Jerat Kemunafikan itu, Hok Gie tak mau menyerah kalah, ia tetap melawan, ia tetap berjuang, dengan memilih menjadi manusia merdeka.
Dengan pilihannya itu, tentu saja Hok Gie harus menanggung segala Konsekwensinya. Sama seperti para Rasul dalam lintasan Sejarah yang membawa risalah ketuhanan. Ketika rasul itu menyampaikan firman Tuhan yang berisi gasakan-gasakan terhadap status Quo kepercayaan para pembangkang, Para Rasul itu kemudian diasingkan oleh Umatnya. Begitu pula dengan Hok Gie. Penolakannya terhadap segala macam Kemunafikan mencengangkan sebagian besar kawan lamanya. Dia mulai dimusuhi. Tapi Hok Gie tidak gentar. Ia tidak merasa takut. Bagi Hok Gie, Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan benar saja, pada akhirnya Hok Gie memang diasingkan. Di tengah keterasingannya itu, di tengah penolakan kawan-kawannya itu, Hok Gie kemudian memilih untuk naik Gunung. Karna bagi Hok Gie, Gunung adalah Simbol Kemerdekaan. Bagi Hok Gie, Naik Gunung adalah Simbol Perlawanan dan Penolakan terhadap segala bentuk kemunafikan. Hanya Gunung lah yang mampu memahami kegelisahan hatinya. Hanya Gunung lah yang ikhlas menerima keberadaannya. Hidupnya. Beserta Abu Jasadnya.

Kata Hok Gie,
Mandalawangi - Pangrango,
...
aku terima kau dalam keberadaanmu,
seperti kau terima daku
...
Apa yang dihadapi Hok Gie saat itu kurang lebih sama dengan kondisi yang mungkin Kita hadapai dan kita rasakan sekarang. Bahkan, realitas kehidupan sekarang bisa jadi lebih Parah. Saat ini, Kemunafikan tanpa malu-malu menampakkan dirinya dengan vulgar. Kemunafikan hadir di tengah-tengah kita dengan legitimasi dalil-dalil keagamaan. Begitu masif dan terstrukturnya, sampai-sampai kemunafikan itu dianggap lumrah.
Di titik inilah Keberadaan Hok Gie menemukan Relevansinya. Karna itu, ketika kita sudah muak dengan segala macam bacotan-bacotan penuh kemunafikan yang malah dianggap sebagai untaian dakwah penuh hikmah, ada baiknya kita mengasingkan diri dulu ke Puncak-Puncak Gunung dan lembah. Karna sekali lagi, Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. 
Ayo Naik Gunung!
Wallahu a'lam
***
Catatan untuk menyambut kedatangan kawan-kawan Gepang dari Pendakian Gunung Merapi
Jakarta, 14 Maret 2016



Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Gunung dan Kemunafikan"