Tranto Ingin Pulang

“Itu namanya Musamus”, kata mas Tranto sambil mengarahkan telunjuknya pada sekumpulan rumah semut yang tersebar di samping jalan kampung yang tengah kami lewati. Mata kami langsung beringsut mengikuti arah telunjuk mas Tranto itu. Terlihat gundukan tanah yang mirip dengan kastil seperti yang ada di logo Disney, namun, kastil khas merauke ini bentuknya lebih surealis.
“Pelan-pelan mas, pelan-pelan”, pinta rere, teman seperjalanan saya. Mas Tranto pun menurut. Segera ia angkat kaki kanannya yang ia gunakan untuk menginjak pedal gas sedikit demi sedikit, hingga, laju mobil yang kami tumpangi pun berkurang secara konstan. Bergegas rere menurunkan kaca jendela mobil sambil mengeluarkan ponselnya untuk memotret. Saya tak mau kalah.
Melihat antusiasme kami yang begitu besar terhadap Musamus itu, dengan sigap, Mas tranto mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama sampai mobil itu bisa terparkir dengan sempurna. Tanpa menunggu komando lebih lanjut, saya dan rere langsung turun dari mobil double gardan yang berukuran besar itu lalu menghambur ke tempat Musamus yang menurut kami memiliki bentuk paling unik. Di pedalaman merauke, mobil sejuta umat semacam avanza atau xenia yang begitu ngetrend di kota-kota besar memang kalah populer dibanding mobil hilux double gardan seperti yang tengah kami naiki. Dengan kontur jalan yang cukup ekstrim, mobil manja nan ringkih semacam Avanza –wa ‘alihi wa sohbihi ajma’in– dengan mudahnya akan terjebak di tengah jalanan yang dipenuhi oleh kubangan lumpur yang sangat licin dan becek itu. Berbeda kondisinya ketika kita menggunakan mobil dengan gardan ganda. Berbekal mobil berbodi bongsor itu, kita bisa menerobos Jalanan berlumpur penuh lubang dan kubangan dengan cukup mudah. Tapi, Jangan senang dulu, meskipun kita berhasil melewati jalanan terkutuk itu dengan selamat, tetap saja ada akibat atau konsekwensi besar yang harus kita tanggung.
Seperti akibat yang timbul dari pertemuan intim antara laki-laki dengan perempuan, ketika mobil bongsor bergardan ganda itu bertemu dengan jalanan berlumpur penuh lubang yang menganga seperti yang ada di merauke, orang yang mengendarai mobil tersebut akan merasakan goncangan demi goncangan yang membuatnya merasakan mual berlebih atau bahkan sampai membuat orang itu muntah-muntah tidak karuan.
Untungnya, badan kami cukup tangguh untuk melawan rasa mual yang sudah naik sampai ke tenggorokan itu. Apalagi, sebagai teman seperjalanan sekaligus pengendara mobil, mas Tranto tergolong cukup kooperatif. Untuk meminimalisir goncangan di dalam kabin mobil, mas Tranto memilih untuk mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati. Juga, untuk mencairkan suasana yang terasa beku sepanjang perjalanan, Mas Tranto kadang melempar Guyonan yang mampu membuat kami terpingkal sampai lupa pada kondisi perut yang terasa begitu mual.
Selain pandai memancing tawa lewat banyolan-banyolannya yang khas, mas Tranto juga enak dijadikan teman ngobrol. Meskipun pendidikan formalnya hanya mentok sampai bangku Sekolah Dasar, mas Tranto memiliki perbendaharaan pengetahuan yang cukup luas. Tidak perlu heran dengan keluasan pengetahuan mas Tranto itu, karna menurut pengakuan mas Tranto sendiri, sebelum menetap di Merauke mas Tranto pernah berpetualang dan tinggal di banyak kota lain untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Petualangan mas Tranto di beberapa kota itulah yang pada akhirnya memperluas dunia mas Tranto, hingga, dari pengalamannya itu, mas Tranto banyak menyerap berbagai macam pengetahuan yang mampu membentuknya menjadi manusia seperti dia yang sekarang.
Luasnya Pengetahuan dan Banyaknya pengalaman mas Tranto tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari nama yang ia sandang. Banyak orang meyakini bahwa “Nama adalah Doa”, dan Tranto adalah contoh nyata dari ungkapan tersebut. Saya ingat, sewaktu pertama kali bertemu mas Tranto di depan penginapan, Tranto memperkenalkan dirinya kepada saya dengan nama Sutranto. Terus terang, saat itu saya langsung terperangah ketika pertama kali mendengar nama lengkap mas Tranto itu. Mungkin, karna menangkap keterperangahan saya, Tranto kemudian bilang, “Orang Tua saya asli Banyuwangi, mas. Tapi Saya lahir di Kalimantan, di tempat Transmigrasi. Makanya Orang Tua saya memberikan nama Sutranto, dari kata Transmigrasi”.
“Ooooh”, respon saya, panjang.
Dahulu, sewaktu memberikan nama unik itu kepada anaknya, barangkali Orang Tua Tranto hanya berfikir secara sederhana. Mereka hanya ingin menandai kehidupan barunya di tanah perantauan dengan nama anak mereka yang pertama. Akhirnya, dipilihlah nama Sutranto yang sederhana itu sebagai penanda. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Jalan hidup Sutranto kelak ternyata tidak pernah bisa dilepaskan dari nama yang telah mereka berikan. Dan benar saja, Setelah Tranto beranjak dewasa, Tranto tidak henti-hentinya melangkahkan kaki, merantau dari satu tempat ke tempat lain yang kebanyakan juga merupakan daerah Transmigrasi. Sampai akhirnya, petualangan Tranto itu terhenti setelah dia menetap di kota Salor, salah satu Pusat Transmigrasi di Kabupaten Merauke.
Tapi, Terhenti bukan berarti Selesai. Kata selesai dapat diumpamakan seperti tanda titik dalam sebuah kalimat, sedangkat terhenti hanyalah sebuah koma yang di belakangnya selalu ada sambungan kalimatnya. Seperti mas Tranto, meskipun secara yuridis dia sudah menjadi warga Kabupaten Merauke yang dibuktikan dengan kepemilikan KTP serta KK secara sah, Tranto masih saja menyimpan harap bahwa suatu saat kelak dia bisa melanjutkan petualangannya, yaitu pulang kembali ke rumah.
“Kalau Punya uang nanti, saya pengen Pulang, mas. Hidup di Kampung, di Banyuwangi.” Ungkap mas Tranto waktu itu.
Pulang memang konsep yang aneh. Ada nilai yang begitu sentimentil yang terkandung dalam konsep itu. Seperti yang dialami sendiri oleh Tranto. Di Merauke, sebenarnya Tranto sudah berhasil membangun Rumah yang, walaupun sederhana, cukup nyaman untuk digunakan sebagai tempat tinggal dan tempat berteduh bagi dia dan keluarganya. Tapi, tetap saja, di bagian yang paling dalam dari relung jiwanya, Tranto masih merasa tinggal di tempat yang asing. Karna itu, dia selalu merawat-rawat harapannya bahwa suatu saat nanti dia bisa Pulang kembali ke rumah yang sebenar-benarnya rumah. Rumah yang selama ini dia idam-idamkan dan dia harapkan.
Bah, Betapa anehnya.
Saya jadi ingat, dalam kosakata Bahasa Inggris, ada istilah Home dan House. Kedua istilah ini dalam bahasa Indonesia diartikan secara seragam, Rumah. Padahal, dalam bahasa asalnya, House dan Home memiliki makna yang berbeda. House diartikan sebagai Bangunan Rumah dalam wujud fisik yang terlihat secara nyata. Sedangkan Home diartikan sebagai sebuah tempat di mana orang yang berada di sana merasakan kenyamanan yang paripurna. Tempat yang di maksud dalam istilah Home ini bisa berwujud apa saja, Rumah, Gunung, Pantai, Hutan dan sebagainya.
Dalam konteks House dan Home ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, House dan Home menyatu dalam satu tempat. Persatuan antara House dan Home ini terjadi ketika kita menemukan rasa nyaman dalam bangunan fisik rumah yang kita tinggali. Dalam pengertian pertama ini, Pulang adalah sebuah konsep di mana kita tengah berproses untuk menuju atau telah berada di bangunan rumah yang memiliki bangunan fisik, luasan dan alamat yang pasti. Kemungkinan Kedua, House dan Home terpisah dan berdiri sendiri secara mandiri. Kemungkinan kedua inilah barangkali yang menimpa Tranto, di mana Rasa nyaman yang ia idam-idamkan tidak merujuk pada bangunan fisik rumah yang ia bangun dan ia tempati di Merauke. Karna itu, Pulang, bagi Tranto, adalah sebuah proses menuju tempat yang memberikan ia rasa nyaman secara paripurna. Dan tempat itu adalah Banyuwangi.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tranto Ingin Pulang"

Post a Comment