Tentang Ikhlas

Panen selalu menjadi momen yang paling membahagiakan. Mungkin, itulah yang dirasakan Salam kali ini. Panen singkong Pertamanya bisa dikatakan sangat berhasil. Karena teringat dengan Kiai Mahmud yang pernah membimbingnya selama ngangsu kaweruh di Pondok Pesantren, salam bertekad utuk sowan ke rumah beliau dengan membawa beberapa bongkol singkong terbaiknya. Tujuannya mulia, sebagai ungkapan Rasa syukur sekaligus untuk berbagi kebahagiaan. Keesokan harinya, Salam menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kampungnya yang ada di pedalaman sampai di Rumah Kiai Mahmud dengan Jalan Kaki. Singkat Kata, sampailah Salam di Rumah Kiai Mahmud. Ia mengutarakan maksud kedatangannya lalu meenyerahkan Singkong hasil panenan yang ia bawa. Kiai Mahmud tidak berucap apa-apa, kecuali memanggil salah satu Santrinya untuk membawakan satu kambing dari kandang di belakang rumah. Tak dinyana, Kiai Mahmud memberikan kambing itu kepada Salam. Salam Menolak dengan Sopan, “Saya ikhlas memberikan Singkong ini kepada Kiai. Ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun”. “Sudah, Terima Saja, Kamu Rawat baik-baik, semoga bisa menjadi tambahan penghasilanmu untuk menghidupi Keluarga”, Jawab Kiai Mahmud dengan Bijak. Salam hanya mengangguk takzim lalu Pamit.
Ketika sampai di Rumah, Kampung Salam Gempar. Tetangga kanan-kirinya terheran-heran, bagaimana mungkin hanya berbekal beberapa bongkol Singkong yang harganya tidak seberapa itu, Salam bisa kembali ke Kampungnya dengan membawa Seekor Kambing yang cukup Besar. “Tidak masuk akal”, timpal Mbok Ginuk, Penjual Nasi Pecel di Pojok Jalan Kampung. Salam gerah, karena itu, dalam satu kesempatan, ia pun menjelaskan duduk perkaranya. “Syukur, Rizki memang tidak akan kemana” kata Kang Parmin, dan Kampung Salam kembali tenang. Namun, ada satu tetangganya yang masih menyimpan hasrat terpendam. Sholeh, Kawan satu Kamar Salam ketika Mondok di Pesantren punya pandangan lain. Ia mulai berhitung, “Salam yang hanya membawa Singkong saja diberikan Kambing sebagai Gantinya. Apalagi kalau membawa Kambing yang lebih Besar, pasti diberi Sapi”, pikirnya.
Benar, dengan mempertimbangkan kalkulasinya itu, akhirnya Sholeh berangkat ke Rumah Kiai Mahmud. Ia Membawa Kambing yang lebih Besar daripada Kambing yang pernah diterima Salam, sambil berharap bahwa Kiai Mahmud akan memberinya ganti yang lebih besar pula. Singkat Kata, Sholeh sampai di rumah Kiai Mahmud, namun dia harus menunggu sekian lama karena saat itu banyak pengunjung lain yang ingin bertemu dengan Kiai satu ini. Memang, Kiai Mahmud dikenal sebagai Khadimul ‘Ummah, atau Kiai Rakyat. Tak heran, hampir setiap hari rumah beliau selalu ramai dikunjungi masyarakat yang sebagian besar berasal dari warga kelas bawah dan kaum mustadh’afin. Mereka ingin menyampaikan keluh kesahnya tentang kehidupan dan berharap mendapat saran pemecahan dan Doa dari kiai Mahmud. Akhirnya, setelah beberapa waktu menunggu, sholeh diperkenankan memasuki ruang tamu. dengan sedikit Basa-basi, sholeh membuka obrolan,
“Pertama-tama, saya sowan ke Rumah Kia untuk bersilaturrahim. Kedua kalinya, saya ingin berbagi hasil ternak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas Karunia dan Rizki yang selama ini dianugerahkan kepada kami”, kata Sholeh sambil menunjuk Kambing yang ditambatkan di luar.
“Tidak Usah repot Repot …”
“Tidak apa-Apa Kiai, Saya Ikhlas ..”
“Yasudah, Semoga Usaha Kamu Bisa lebih Berhasil Lagi ..”
“Amin Amin Amin …”,
Basa Basi berlanjut, tapi Kiai Mahmud sudah tampak sangat lelah karena tak putus putusnya menerima tamu sejak pagi. Kiai Mahmud izin ke Belakang untuk Beristirahat, Sholeh pun Pamit.
Sore hari, Setelah Bangun dari tidurnya, Kiai Mahmud masih melihat Sholeh di beranda Rumah. Dengan pandangan heran, beliau menghampirinya.
“kok Belum Pulang ?”
“Anu Kiai, Anu … Kambing …”
Kiai Mahmud akhirnya paham dengan apa yang ada dalam benak Sholeh, karena itu dia memanggil salah satu santrinya lalu memberikan perintah untuk membawakan sesuatu dari belakang rumah.
“Jadi ..” Kata Kiai Mahmud, “Kemaren Dulu ada Santri yang datang membawakan Singkong, lalu saya Kasih dia Kambing. Karena Kamu datang Bawa Kambing, Sebagai gantinya, saya kasih kamu Singkong .. ”   
Ikhlas ? Meraba Diri
Waktu itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas Enam ketika pertama kali mendengar kisah di atas dari seorang da’i yang cukup terkenal di Desa saya. Kisah tersebut—barangkali, hanya sekedar cerita rekaan yang jauh dari realita kehidupan sebenarnya. Namun, ada makna yang sangat dalam dan mendasar yang bisa dipetik dan dipelajari dari kisah tersebut, yaitu Keikhlasan.
Dalam hidup, Ikhlas dan Keikhlasan sangatlah penting. Bahkan, karena menyadari betapa pentingnya Keikhlasan ini, pembahasan mengenai Niat selalu diletakkan pada Bab-Bab awal dari setiap Kitab Keagamaan—terutama kitab Akhlak/Tasawwuf. Syech Amin Al Kurdi, misalnya, pengarang Kitab Tanwirul Qulub ini memberikan porsi yang cukup besar untuk Bab yang membahas tentang Niat. Begitu juga dengan Imam Nawawi, dalam Kitab Al Arba’in an Nawawiyah (1663), beliau menempatkan Hadist yang berbicara mengenai Niat dalam pokok awal pembahasan.
Kenapa Ikhlas dan Niat sangat terkait erat ? Karena Ikhlas adalah sifat dari setiap tindak perbuatan sedangkan Niat merupakan Fondasi awal dari tindak perbuatan itu. Fondasi mempengaruhi bentuk dan sifat bangunan yang didirikan di atasnya, tidak mungkin Bangunan bertingkat sepuluh dibangun di atas fondasi sederhana seperti yang digunakan untuk mendirikan bangunan satu tingkat. Karena itu, dalam Salah satu hadist, Rasulullah pernah bersabda, “Innama al a’malu bi al-niyat”, setiap amal perbuatan tergantung dari niatannya (Imam Nawawi, 1663). Memang, Apabila dihitung Secara matematis, amal perbuatan yang baik, harusnya mendapat imbalan yang baik pula, begitu juga sebaliknya. Namun, karena setiap amalan amat tergantung dengan niatannya, maka Amal yang baik belum tentu dihitung baik jika niatannya tercemar dan terkooptasi oleh berbagai macam kotoran Pamrih.
Salam dan Sholeh, barangkali, sama-sama faham tentang teori dan makna keikhlasan ini. Tapi, ikhlas bukanlah sekedar Teori, dan Salam berhasil melampaui Teori keihlasan ini. Dengan niatannya yang tulus untuk bersedekah memberikan secuil dari hasil panenannya kepada Kiai Mahmud, Salam mendapatkan imbalan yang lebih besar, yakni Seekor Kambing. Begitu juga dengan Kiai Mahmud, karena Niatannya yang tulus memberikan Kambing kepada Salam, beliau mendapatkan kambing yang lebih besar sebagai gantinya (Lihat QS. 2:261). Sedangkan Sholeh ? Ia sudah terjegal semenjak langkah pertama.
Kisah Salam dan Sholeh di atas merupakan cerminan nyata dari berbagai macam sisi kehidupan kita. Saat ini, Setiap Manusia tengah sibuk menjalankan peran mereka dalam Drama kehidupannya masing-masing, termasuk Saya dan Anda. Dalam setiap lini kehidupan, dalam setiap kesibukan, Dalam Setiap Pekerjaan, Dalam Setiap Pengabdian, Selalu ada Sosok Salam, Sholeh, Kiai Mahmud—bahkan Singkong dan Kambing, yang muncul ke permukaan. Boleh jadi, saya adalah cerminan dari Sholeh dan Anda adalah Salam, atau bisa saja Anda adalah Representasi Kiai Mahmud dan Saya adalah Singkong atau Domba nya itu.  Wallahu a’lam

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tentang Ikhlas"

Post a Comment