Gadis Lereng Bentuang

“Marmik ?”, teriakku tak percaya ketika melihat seorang gadis belia yang tengah tertatih tatih memanggul satu Takin penuh berisi Sahang. Gadis itu menoleh, dengan agak tergesa-gesa aku pun berjalan menghampirinya. Tapi, baru beberapa langkah menapakkan kaki, tiba-tiba tubuhku terdorong surut kebelakang. Hampir aku terpeleset jatuh karena Kondisi jalanan dusun siang itu memang cukup licin akibat guyuran hujan tadi malam.
“Sungguh ceroboh”, Umpatku dalam hati,.
Untung saja tangan kananku masih sempat meraih tangkai pakis yang tumbuh tanpa aturan di pinggir jalan, sehingga keseimbanganku kembali terjaga. Tak mau mengulang kecerobohan yang sama, kali ini aku kembali berjalan ke arahnya dengan penuh kehati-hatian. Mungkin karena sempat melihatku terpeleset, Gadis itu tersenyum, hingga lesung pipit di pipinya yang ranum itu pun ikut merekah.
“Senyum yang manis”, gumamku.
Iya, Marmik memang gadis yang manis. Kulitnya yang agak gelap akibat terpaan terik matahari serta Rambut hitam sebahunya yang kurang terawat itu, sedikitpun tak mampu menutupi kesan manis yang memancar dari wajahnya. Ia juga tergolong anak yang cerdas dan cukup menonjol diantara teman-teman sekelasnya. 2 Minggu yang lalu, ketika pertama kali melihatnya, hampir aku tak percaya kalau ia baru menginjak kelas 5 SD, karena dari sudut pandangku, raut wajah dan ukuran tubuh Marmik telah berkembang jauh melampaui usia kanak-kanaknya. Kebetulan aku tahu lumayan banyak tentang diri Marmik karena ia adalah satu dari sedikit murid perempuan di SD Perbatasan Punti Tapau, Entikong, tempat aku mengajar selama menjalankan Program Kuliah Kerja Nyata (K2N).
“Eh, Slamet Niak’n Pak Guru !”, sapanya dengan logat khas Dayak Bidayuh.
“Kak Sandy !”, Sergahku.
Entah kenapa, ada rasa jengkel yang tiba-tiba menyergap. Sudah sedari awal pertemuan aku suruh Siswa-Siswi SD Perbatasan itu untuk memanggilku dengan Sebutan Kak Sandy. “Supaya Lebih Akrab”, Jawabku ketika banyak diantara mereka yang mempertanyakannya.
Terus terang aku kurang suka dipanggil Pak Guru. Selain kesannya terlalu tua, panggilan Guru hanya akan memperlebar jurang pemisah antara aku dengan mereka. Memang, secara formal aku mendapat amanah untuk mengajar di SD Perbatasan ini, tapi tak pernah sekalipun aku anggap anak-anak SD itu sebagai Murid. Karena sejak awal, mereka sudah aku anggap sebagai Sahabat, Sahabat Kecil. Dan seperti layaknya sahabat, aku mengajar bukan untuk menggurui. Bahkan kata mengajar itupun sebenarnya kurang tepat, terlalu berlebihan. Istilah Berbagi mungkin lebih cocok untuk mewakili keseluruhan proses interaksi formalku dengan mereka. Karena, kata Berbagi menggambarkan proses resiprokal yang intens. Adakalanya Mereka membagi tawa, semangat, dan tak jarang pula mereka membagi tangisan. Sedangkan aku ? Aku hanya mampu berbagi sedikit pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan Pengalaman yang aku harap bisa memberikan dorongan supaya mereka mengenal potensi yang tersembunyi dalam diri mereka, supaya mereka mau maju, mau berkembang, dan mau berjuang untuk mengakali “Batas-Batas” yang membelenggu kehidupan mereka selama ini.
“Hahaha..”, Tiba-tiba Marmik Tertawa. Tawanya lepas dan terdengar Nakal.
“Ah, rupanya ia sengaja menggodaku dengan memanggilku Pak Guru. Dasar Marmik.. ”, bisikku dalam hati.
Akupun mendengus, pura-pura marah. Namun, tanpa memperhatikan reaksiku terlebih dahulu, Gadis itu telah membungkukkan badan untuk menurunkan Takin dari Punggungnya. Dengan Cekatan, ia mulai memiringkan pinggulnya, sementara Tangan kanannya terlihat sibuk melepaskan tali selempang takin yang sedang dipanggulnya itu. Tak Perlu waktu lama bagi Marmik sampai beban itu berhasil diturunkan.
Setelah usahanya itu berhasil, Marmik kembali mendongakkan Kepalanya sambil tersenyum. Keningnya tampak basah oleh keringat. Aku buru-buru merogoh kantong celana mencari selembar sapu tangan kesayanganku. Namun, belum sempat aku ulurkan sapu tangan itu, Ia sudah mengangkat lengan kanannya lalu menyeka peluh yang mengucur dengan kaosnya yang lusuh.
“Kak Sandy mau kemana ? Kapan mengajar lagi di Gereja Engkaras ?”, tanyanya kemudian.
“Ateng, Jeriya, Peri, Meti, Rajes dan teman-teman yang lain selalu menanyakan Kakak“, imbuhnya.
“Mungkin Sabtu ini aku, Kak Tya, Kak Dela, Kak Lona, dan Kak Sekar baru bisa pergi dan mengajar di Dusunmu. Sekarang kami masih sibuk menjalankan program Pengandangan Pongan dan Perbaikan Jalan Dusun di Tapau atas.”, jawabku
“ini, aku mau pergi ke rumah Bapak Kadus untuk membahas Program itu”.
“Oh….”, selorohnya.
Wajah Marmik tampak lelah, terlihat dengan sangat jelas bulir-bulir keringat saling berdesakan menyembul di keningnya. Seolah tak nyaman dengan buliran keringat itu, ia mengusap keningnya yang basah sekali lagi. Agak trenyuh hatiku memandang Marmik kali ini. Memang, mentari di hari Minggu ini bersinar semakin terik saja di kejauhan. Kontur daerah yang berbukit-bukit ditambah dengan letak Entikong yang berada di kawasan Garis lintas Katulistiwa membuatPanasnya udara siang ini semakin menjadi-jadi. Apalagi Hutan Asli Kalimantan yang ada di Lereng Bentuang sudah tidak begitu rimbun, banyak pepohonan yang ditebang dan diganti dengan tanaman Produksi berupa Sahang dan singkong.
“Memang lebih baik merasakan panas yang menyengat daripada mati Kelaparan”, Bisikku dalam hati.
Kudongakkan kepala mencoba memandang matahari yang bersinar angkuh di atas ubun-ubun, namun semburat cahayanya benar benar menyilaukan mata. Kemudian, aku lemparkan pandanganku ke arah perbukitan di Lereng Gunung Bentuang  yang menjulang gagah di barat daya Punti Tapau. Di balik rimbunan Bukit itulah Rumah Marmik berada.
Setiap hari, Marmik dan teman-temannya harus menempuh perjalanan panjang dari Dusunnya selama 1 jam menembus jalanan hutan berkelok-kelok dan naik turun bukit yang membentang di sepanjang lereng Bentuang sampai di SD Perbatasan Punti Tapau, tempat mereka sekolah. Belum lagi ketika musim hujan seperti sekarang, jalanan yang hampir semuanya terbentuk dari tanah liat itu menjadi semakin licin akibat guyuran hujan, kalau tidak hati-hati, orang yang berjalan di atasnya bisa terpeleset jatuh.
Yah, seperti itulah kenyataan yang dihadapi Marmik sehari-hari. Perlu semangat dan tekat luar biasa untuk tetap Bersekolah, dan untungnya semangat itu ada pada diri mereka. Sebenarnya, di Dusun marmik sudah ada bangunan Sekolah semi permanen yang terbuat dari papan kayu, sayangnya Bangunan tersebut hanya bisa digunakan untuk Kelas 1,2 dan 3, sesuai dengan jumlah ruangan yang ada. Ketika Anak-anak sudah Lulus dari Kelas 3, mereka akan melanjutkan sekolah di Dusun Punti Tapau. Tak jauh beda dengan kondisi yang ada di Punti Engkaras, Sekolah Dasar yang ada di Punti Tapau juga hanya memiliki 3 Ruangan yang digunakan secara bergantian. Pukul 08.00 WIB sampai 09.30 WIB, ruangan digunakan untuk Kelas 1,2 dan 3. Sedangkan Kelas 4,5 dan 6 menggunakan ruangan belajar dari pukul 10.00 WIB sampai 12.30 WIB. Bedanya, di SD Tapau, jumlah gurunya lebih mencukupi daripada di SD Engkaras yang hanya mempunyai 1 Guru, Ibu Narti Umi. Karena itulah, Setiap Akhir Pekan Aku dan Teman-Teman Satu Kelompok selalu menghabiskan Waktu Seharian Untuk Mengajar Anak-Anak Engkaras, membantu beliau.
“Marmik, Kamu senang kan Bersekolah ? Kamu itu Cerdas, pasti kamu bisa melanjutkan Sekolah ke SMP Balai Karangan, SMA Sanggau, bahkan sampai Kuliah di Univer …”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Marmik telah mengangkat kembali Takinnya, kemudian bergegas pergi ke arah jalanan dusun Engkaras.
“Marmik …. Tunggu !”
Kuseru sekali lagi. Tapi sia-sia, Marmik tetap melenggang kangkung tanpa menggubris panggilanku. Hampir aku melangkah mengejarnya, sampai kudengar ada suara yang memanggilku dari belakang. Akupun menoleh, tampak dari Kelokan Jalan Samou Lupeng berjalan tergopoh-gopoh bersama seorang Pemuda yang belum aku kenal.
Aku Tersenyum menyambut kedatangan mereka. Samou Lupeng adalah adik kandung dari Samou Jabol, Ayah marmik. Walaupun Samou Lupeng tergolong Miskin, tapi Sejak Samou Jabol Meninggal akibat penyakit Krumut beberapa tahun lalu, Samou Lupeng lah yang membiayai semua Kebutuhan Keluarga Ne Naya, Ibu marmik, termasuk Biaya Sekolah Marmik. Memang, cukup berat beban yang harus ditanggung Samou Lupeng, apalagi ia juga harus membiayai sekolah Anaknya, Betsia dan Jingson. Karena itulah Marmik dan Ibunya ikut bantu-bantu di Ladang. Sebenarnya Aku Kagum dengan Samou Lupeng. Sayang, beliau terlihat kurang suka melihat kedekatanku dengan Marmik, padahal kedekatan kami adalah kedekatan yang wajar antara Guru dengan Murid. Entah, Apa Penyebabnya.
“Bagaimana Panen Sahang nya, Samou? ”, tanyaku sekedar basa-basi.
Paguh, hanya Saja Harga Jual di Toke Tebedu Sedang Turun”, Jawabnya Dingin.
“Mau Kemana Mas Sandy? ” tanyanya Kemudian
“Mau ke rumah Bapak Kadus. Membicarakan soal Perbaikan Jalan dan Pengandangan Pongan di Tapau Atas.”
“Hmm, saya kira mau Mengganggu Marmik  .. ”, Ujar Samou Lupeng
Terus terang aku terkejut, tapi aku berusaha keras menutupi keterkejutanku dengan senyum yang agak aku Paksakan. Mungkin inilah alasan kenapa Samou Lupeng tidak begitu suka melihat kedekatanku dengan marmik. Yah, Aku bisa maklum, memang seperti inilah romantika Mahasiswa yang sedang K2N. Kadangkala disanjung bak Dewa Penolong, tapi tak jarang pula dipandang sebagai Garong yang akan merampok gadis-gadis desa.
“Samou Lupeng bisa Saja, apa saya ada tampang sebagai seorang Pengganggu Bidayung ?”, ucapku sambil tertawa kecil.
“Mungkin Saja. Siapa Tahu … ”, Kali ini Sikap dan Intonasi Samou Lupeng sudah mulai Mencair.
“Hehe ..”, Aku tertawa Kecut.
 “Menurut Mas Sandy, Marmik itu Cantik tidak ? ”, tanyanya sambil melirik ke arah Pemuda berpakaian Necis yang belum aku Kenal..
 “Cantik, tapi selain Cantik, Marmik juga Pintar. Saya kira ia bisa melanjutkan sekolah ke SMP Balai Karangan, bahkan bisa sampai Kuliah. Apalagi Semangat Belajar Marmik juga sangat Tinggi, sayang kalau disia-siakan. Karna itu Saya dan Teman-Teman lain berencana membantu Marmik …”, Jawabku sambil tersenyum.
Samou Lupeng terdiam, sejenak ia memandang Pemuda di sampingnya yang terlihat tengah Gelisah. Pemuda itu pun mengangguk ke arah Samou Lupeng dengan anggukan yang menyiratkan satu pesan yang tidak aku mengerti.
“Mari Mas Sandy, Saya Pulang dulu …”, Tiba-tiba Samou lupeng bergegas melangkah menuju Jalanan Dusun, ke arah marmik Pergi tadi.
***
“San, Sudah dengar belum kalau minggu depan mau ada Pesta ?”, Sambil mengucek cuciannya, dela membuka obrolan.
Dela adalah salah satu Anggota Kelompokku yang sering bercengkerama dengan Sene dan Bidayung-Bidayung Dusun, Sehingga tak heran kalau dia memiliki Perbendaharaan Gosip dan Informasi paling lengkap dibandingkan kami.
“Gawai ? Ini kan Pertengahan Juli Del, Bukannya Gawai selalu diadakan Pas Bulan Kelima ya ?”
“Bukan San, bukan Gawai. Mau ada Pesta Pernikahan Adat..”
“Memangnya siapa yang mau Nikah ? ”
“Si Kalalo .. Kamu ingat kan ? Itu, Pemuda dari Serian, saudara jauh Samou Lupeng yang beberapa hari ini diinapkan di Rumah Pangrang Kiman”
“Pemuda Necis dari Malaysia itu Ya ?”, Tiba-tiba aku teringat dengan Kejadian di Jalan Dusun tempo hari.
“Iya, Tiba-tiba saja dia memajukan tanggal Pernikahannya. Padahal rencana awalnya sih masih 2 Tahun lagi, nunggu si Perempuan Lulus SD”,
Aku Membelalakkan mata.
“Lulus SD ? Yang Bener Del ? Usianya baru berapa Coba ? Dua Belas atau Paling tidak Baru Tiga Belas Tahun Kan. Memangnya Sama siapa ?”
“Sama Marmik …  ”, Jawab Dela Singkat.
“Jangan Bercanda Del … ”, Aku memandang Wajah Dela Dengan Pandangan Tak Percaya. Dadaku berdetak semakin Keras, pantas beberapa hari ini Marmik tidak Masuk Sekolah. Sebelumnya aku Anggap ketidakhadiran Marmik itu Wajar, karena Anak-anak Tapau ataupun Engkaras memang Sering Absen, apalagi pada musim Panen Sahang seperti sekarang. Mereka lebih Suka Membantu Orang Tuanya bekerja di Ladang daripada Sekolah. Karena hasil berladang jauh lebih nyata daripada hasil dari Sekolah. Seandainya pun mereka tetap memaksa untuk bersekolah, toh pada akhirnya mereka juga akan menjadi Petani seperti Ayah Ibunya. Pikir mereka.
“Beneran San ! Kata Ne Lida, Samou Lupeng sudah Nggak mampu lagi menghidupi Keluarganya dan Keluarga Marmik sekaligus. Jalan Satu-satunya ya Menikahkan Marmik. Kebetulan ada Saudara Jauh Samou Lupeng dari Malaysia yang Suka sama marmik. Kalalo ini dari Keluarga Kaya, jadi Masa Depan Marmik bisa terjamin …” Ujar Dela.
“Bahkan Ne Lida juga Bilang kalau Marmik itu Beruntung, Lagian Kalau Mau Nerusin Sekolah, Mau Jadi apa dia Kelak. Paling Menthok juga Cuma Sampai Kelas 6 SD. Mau Lanjut SMP ? SMA ? Universitas ? Siapa Yang Mau Membiayai ? Letak Sekolah-Sekolah itu juga sangat Jauh dari Dusun yang Terisolir ini ..” Imbuhnya.
Aku Terpekur. Kehidupan dan Pendidikan memang tidak pernah ramah terhadap masyarakat Perbatasan. Orang Kota bisa menganggap Pendidikan sebagai Investasi yang sangat menguntungkan dan bernilai bagi anak-anaknya kelak, tapi bagi warga atau anak-anak di sini, Pendidikan hanyalah ironi yang membuat miris dan sakit hati. Ironis, karena di satu sisi banyak anak-anak perbatasan yang mempunyai semangat tinggi untuk menuntut ilmu, tapi di sisi lain, lembaga pendidikan tidak tersedia dengan memadai. Kalaupun ada, aksesnya sangat sulit dan kurang terjangkau. Padahal pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap warga negara. Maka, sangat masuk akal jika investasi kedalam lembaga pernikahan lebih menarik perhatian bagi orang tua di sini. Apalagi calon yang ada berasal dari negara tetangga yang mempunyai tingkat kesejahteraan lebih tinggi daripada mereka.
“Aku, Aku Jelas tak bisa melarang mereka, Apa hak ku ? Bahkan itulah satu-satunya kesadaran yang nyata memberikan hasil Buat Mereka. Pendidkan ? Ah, Omong Kosong !”, pikirku.
“Kenapa ? Ada apa denganmu San? ”, pertanyaan Dela membuyarkan lamunanku.
“Ahh, tidak. Marmik hanya masih terlalu muda untuk menikah !..”, aku menghela nafas panjang. Kuhempaskan badanku di pinggir kali yang mulai beriak keruh kecoklatan, sekeruh hatiku saat ini.
***
Untuk Adik-adikku di Tapal Batas. Kalian Luar Biasa !

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Gadis Lereng Bentuang"

Post a Comment