Kejar Cintamu

Perjalanan dari Pelabuhan Pototano Sumbawa menuju Pelabuhan Kahyangan Lombok Timur via Kapal Laut kali ini tidak terasa membosankan seperti Perjalanan saya Sebelumnya. Selain karena Semburat Jingga di Ujung Langit Gugusan Sunda Kecil yang terlihat sangat menawan, perjalanan kali ini juga dihibur oleh cerita menarik dari Rekan Seperjalanan yang bernama Bambang. Orangnya menarik, Pengalamnnya luar biasa, tapi yang membuat saya kagum adalah semangat hidup dan Kisah Asmaranya.
Bambang lahir dan besar di Wonogiri, sebuah kota kecil yang terletak diantara Solo, Ponorogo dan Pacitan. setelah lulus dari Sekolah menengah atas, ia merantau ke pulau Kalimantan demi mengejar kesuksesan hidup. Pembawaannya yang santun dan Supel menambah nilai positif pada diri Bambang, hingga Tak perlu waktu lama akhirnya ia Mendapat Pekerjaan di Salah satu Perusahaan Besar dengan Gaji yang Lumayan.
Hari-hari Bambang selama Tiga Tahun di Kalimantan dilaluinya dengan Kerja Keras dan Semangat Hidup Tinggi, sampai suatu ketika ia harus melepas pekerjaannya tersebut akibat rasa kecewa yang mendalam terhadap Manajemen ketenagakerjaan yang diterapkan Perusahaannya. Kehidupan tanpa Pekerjaan ditambah Kerinduan yang mendalam dengan Keluarga dan Kampung halaman, memaksa Bambang untuk Pulang Kampung dan melepaskan harapan hidup di tanah Kalimantan yang pernah diangankannya dulu.
***
Saat itu, mentari semakin meninggi, Pagi pun beranjak Siang. Bambang akhirnya terbang meninggalkan Kalimantan, meninggalkan pulau yang telah memberinya kenangan akan pengalaman hidup di Tanah Perantauan. Setibanya di Soekarno-Hatta, ia beristirahat sejenak di Pelataran luar Bandara sambil menanti waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan ke Wonogiri. Namun, Baru beberapa menit melepaskan kepenatan badan, ia sudah dikejutkan oleh tingkah seorang perempuan muda yang dengan seenak hatinya menghempaskan Tas besar kemudian Duduk di sampingnya dengan tiba-tiba.
Perempuan itu terlihat sangat lelah, namun guratan kecantikan masih tampak dengan sangat jelas dari wajahnya. Naluri Kelaki-lakian Bambang pun terusik, ada getaran aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.
“Mungkin inilah yang dinamakan Cinta Pada Pandangan Pertama ..”, Pikirnya.
Tak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, dimulailah aksi Pendekatan kepada perempuan itu. Sambil memasang senyum yang paling manis, Bambang mulai membuka obrolan.
“Namanya Siapa Mbak ?”
Tak ada Respon, perempuan itu masih diam membisu. Tapi Bambang tak mau menyerah. Beberapa kali ia melancarkan pertanyaan serupa dengan disertai Guyonan-guyonan yang Khas, sampai akhirnya Perempuan itu menyerah dan mau Membuka mulut. Setelah berbincang beberapa saat, tahulah Bambang siapa Nama perempuan itu. Ia biasa dipanggil dengan sebutan Dewi. asalnya dari Maslagik, sebuah kota kecil yang terletak di Sebelah Utara Selong, Ibu Kota Kabupaten Lombok Timur. Kebetulan Dewi Baru pulang dari Qatar setelah 2 Tahun bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga.
Dari perkenalan tersebut, obrolan keduanya pun terus mengalir. Tapi Sayang, walaupun perbincangan diantara Bambang dan Dewi sudah berlangsung cukup lama, namun suasana masih terasa kaku. Dewi masih terlihat menjaga Jarak dengan Bambang. Bahkan ketika Bambang meminta Nomer Handphone Dewi, perempuan itu tetap bersikukuh tak mau memberikan kontaknya dengan berbagai macam alasan. Karna itu, Semakin lama, Bambang terlihat semakin Putus Asa, apalagi ketika ia melihat Gelagat Dewi yang mau beranjak Pergi.
“……. inikah pertemuan Pertama sekaligus terakhir dengan Gadis yang telah membuatku Jatuh Cinta ?”, Tanyanya dalam hati.
Laki-laki itu menjadi Bimbang, hampir ia meraih tangan Dewi ketika melihat Perempuan itu mulai berdiri dari tempat duduknya, tapi niat itu ia urungkan setelah mendengar Celotehan Dewi.
“Mas, Aku nitip Tas Dulu. Mau Ke Toilet Sebentar ..”
Bambang hanya diam membisu, Kerongkongannya tercekat, ia hanya mampu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Namun, Pandangan matanya tetap lekat ke arah Dewi yang tengah berjalan menjauh menuju toilet, seolah-olah ia ketakutan kalau-kalau Dewi berlari Pergi meninggalkannya dalam Kesendirian. Tapi, Bambang Kembali tersenyum, karna apa yang dipikirkannya itu tak akan pernah terjadi. Segera ia menoleh ke arah Tas Besar yang dititipkan Dewi, Tas itulah yang akan menjaga Dewi untuk Tetap berada Di sini. Karena itu, segera ia menggeser posisi duduknya mendekati Tas Besar Dewi. Ia Pandangi terus Tas Besar itu, namun, tiba-tiba saja pandangan matanya terpaku pada Tas Kecil yang terlilit rapi di samping kiri Tas Besar yang dititipkan Dewi itu. Ia ingat, tas Kecil itulah yang tadi ia Lihat Selalu Menghiasi Lengan Kanan Dewi.
Otak Bambang Berputar, barangkali di dalam tas kecil itu, tersimpan Handphone atau Kertas-kertas yang mencantumkan identitas atau alamat Dewi. Ia Mengambil Tas Kecil itu, dan ketika mau membukannya, batinnya bergejolak, ia Tahu tindakan yang akan dilakukannya itu Salah, tapi apa mau dikata, inilah satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan Nomor Telpon atau Alamat Dewi. Sejenak ia terdiam, lalu ditolehkan wajahnya ke Kiri dan Ke Kanan untuk memastikan kalau tidak ada orang yang memperhatikan tindak tanduknya. Setelah Yakin, Ia memberanikan Hatinya, ia buka tas kecil itu, dan Ternyata memang benar. Handphone Dewi terselip rapi di salah satu sudutnya. Buru-buru ia menggunakan Handphone Dewi untuk Menghubungi Handphone nya.
“ Tit Tit Tit Tiiit Tiiit Tit Tit Tit”, Handphone tua Bambang Berbunyi.
Tampak dari layar kusamnya satu Nomor Baru, Nomor Dewi. Bambang pun tersenyum, Tanpa membuang Waktu, Segera ia menyimpan Nomor itu kedalam Memori Handphone nya, kemudian ia Masukkan kembali Handphone Dewi itu Ke dalam Tas asalnya. Beruntung, setelah Selesai membenahi dan Mengembalikan Tas Kecil itu Pada Tempatnya semula, Dewi muncul dari Kelokan Jalan.
Setelah Sampai di hadapan Bambang, tanpa basa-basi lagi ia menyampaikan Ucapan terimakasih Lalu mengambil Kedua Tasnya dan Segera pamit Pergi. Bambang terdiam, ia hanya Bisa Melihat Kepergian Dewi Tanpa Bisa mencegahnya.
***
Pasca Pertemuan di Bandara itu, tak henti-hentinya Bambang menghubungi Nomor Dewi. Hampir setiap hari ada saja yang dikerjakan laki-laki itu, entah itu menelpon Dewi sekedar untuk Mengucapkan Selamat Pagi, Selamat Tidur, Menanyakan Kabar, ataupun mengirim SMS Ucapan dan Guyonan Basa-Basi. Awalnya, Dewi merasa terganggu. Ia juga Heran, “Darimana Bambang tahu Nomor Handphone nya ..”, tapi lama Kelamaan, Dewi menjadi terbiasa dan bisa memaklumi tindakan yang dilakukan Bambang.
Karena Seringnya Berhubungan Lewat Telpon itulah, Hubungan Bambang dan Dewi menjadi Semakin Akrab. Bahkan mereka berdua sudah merasa saling memiliki seperti layaknya kekasih meskipun Bambang dan Dewi tak pernah mengutarakan Perasaannya masing-masing. Sampai suatu hari, Dewi dibuat Terkejut Bukan Main oleh Tindakan Nekat yang dilakukan Bambang.
Siang itu, Dewi baru Pulang dari Sawah. Seperti biasa ia langsung masuk lewat pintu belakang rumahnya. Namun, belum sempat mencuci tangan dan kaki, ia sudah dipanggil oleh Bapaknya.
“Wi, ada tamu …”
“Tamu ?” Tanyanya dalam hati.
Wajah Dewi terlihat heran sekaligus penasaran, karena terakhir kali ia dikunjungi tamu adalah  ketika Biro Penyalur Tenaga Kerja datang kerumahnya untuk meminta Tanda tangan, 2,5 Tahun yang lalu. Kawan-kawan Dewi pun ketika ada keperluan dengannya, biasanya langsung menemuinya di sawah.
Tak mau memendam rasa penasaran terlalu lama, Segera ia langkahkan kaki menuju Ruang tengah, tempat Keluarganya biasa menerima tamu. Ia buka Tirai Pembatas antara Ruang Belakang dan Ruang Tengah, dan ketika ia Memandang Sosok laki-laki yang tengah duduk di samping Bapaknya, tubuh Dewi sempat terlonjak sambil menahan teriakan.
“Maaas Baa aambaang .. ?”
Dewi Kaget bukan kepalang, ia tak menyangka laki-laki yang ada di depannya itu bisa sampai Ke Rumahnya. Memang, dulu ia pernah memberikan alamat rumahnya ketika Bambang menanyakannya, tapi ia masih tak percaya kalau Bambang bisa bertamu secepat ini.
“Apa Kabar Wi .. ?”, tanya Bambang.
Pertanyaan Bambang menyadarkan Dewi, akhirnya Keduanya pun terlibat Perbincangan yang cukup  hangat. Maklum, Sejak Pertemuan di Bandara 4 Bulan yang lalu, baru kali ini Bambang dan Dewi bisa Saling bertatap muka. Mereka berdua terlihat sangat gembira, bahkan beberapa kali tawa keduanya berderai. Namun, Suasana riang itu tiba-tiba berubah menjadi hening ketika Tangan Bambang Memegang Kedua Tangan Dewi.
“Wi, Aku datang Kesini untuk Meminangmu. Kamu Mau ? Kalau Kamu menerima pinanganku, Kedua Orang tuaku akan segera Datang Kemari untuk Melamarmu… ”, Kata-kata Bambang terdengar jelas dan mampu memecah kesunyian.
Dewi terdiam, sejenak ia menundukkan kepala untuk Menenangkan Hatinya. Lalu, beberapa saat kemudian ia mengangkat kepalanya Sambil tersenyum.
“Iya, Aku Mau Mas …”

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kejar Cintamu"

Post a Comment