Mandalawangi - Pangrango

Awalnya, tidak ada niatan untuk mengambil foto pre-wedding seperti ini. Seingat saya, saat itu, tiba-tiba saja muncul kerinduan untuk mendaki Gunung Pangrango, berkemah di Lembah Kasih Mandalawangi seperti yang diidam-idamkan Rina, sambil menikmati keindahan Kabut “endemik” dan Puspa Edelweiss Mandalawangi yang sangat khas itu. Saya kemudian mengajak beberapa kawan yang memiliki hobi dan kecintaan serupa untuk turut serta. Tak perlu waktu lama, kesepakatan pun segera diambil, tim ekspedisi terbentuk, dan ketika akhir pekan datang menjelang, dengan penuh kegembiraan kami pun berangkat untuk mendaki.

Di tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa bagian dari Jalur pendakian berubah menjadi genangan air sehingga bertambah licin ketika ditapak. Perlu energi ekstra untuk melintasi jalur tersebut, apalagi dengan sekian belas kilogram ransel yang harus disandang di punggung. Energi kami pun terkuras dengan cepat, cuping hidung kami ikut kembang kempis akibat nafas yang tersengal. Melihat kondisi medan dan kondisi badan saat itu, akhirnya kami memutuskan untuk menggelar tenda di Pos Kandang badak dan melupakan niatan untuk menginap di Mandalawangi.

Keesokan harinya, pagi-pagi buta, kami berangkat summit ke puncak Pangrango. Semua perbekalan ditinggal di dalam tenda. Masing-masing dari kami hanya membawa sebotol air mineral, beberapa bungkus kudapan, dan, tentu saja, ponsel serta kamera digital untuk mengabadikan momen di atas sana. Dengan beban bawaan yang minimalis tersebut, kaki kami terasa lebih ringan untuk diajak melangkah. Terlebih lagi, meskipun jalur pendakian masih terasa licin akibat guyuran hujan kemaren sore, kedua tangan yang telah terbebas dari kewajiban membawa perbekalan berat itu akhirnya bisa lebih leluasa untuk mencari pegangan demi monopang berat tubuh kami.

Sekitar 2 jam waktu yang kami perlukan untuk menggapai puncak Pangrango. Waktu tempuh ini tergolong cepat, karena waktu normal yang biasa diperlukan untuk menempuh perjalanan dari kandang badak sampai puncak Pangrango berkisar antara 2,5 sampai 3 jam dengan ritme langkah pelan. Sampai di puncak, matahari sudah condong di atas cakrawala. Selesai istirahat barang sejenak sambil menyaksikan keindahan kawah Gunung Gede di kejauhan sana, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi utama kami, Lembah Kasih Mandalawangi, yang jaraknya hanya tinggal sepelemparan batu.

Sesampainya di Mandalawangi, saya mengajak kawan-kawan sependakian beringsut menuju lokasi favorit untuk menggelar lapak peristirahatan. Setiap kali berziarah ke Lembah kasih, saya selalu mengincar lokasi paling syahdu itu untuk duduk-duduk atau rebahan, lokasi yang kebetulan juga menjadi tempat kesayangan Hok Gie. Tempatnya cukup kentara dan mudah untuk dijangkau, sekitar sepuluhan meter dari jalan masuk menuju mata air, di sekitaran rumpun-rumpun Edelweiss yang menghadap langsung ke arah celah angin. Kalau cuaca sedang cerah, dari sana kita bisa melihat kemegahan Gunung Salak di kejauhan.

Istirahat belum jenak, penat pun belum juga hilang, tapi, Risma, salah seorang kawan sependakian, sudah mulai beraksi dengan gawai barunya, yang, menurut pengakuannya sendiri (baca: pamer), ia dapatkan secara langsung dari Tiongkok. Dengan mata berbinar-binar, ia melompat kesana-kemari, jepret sana-sini, sambil tersenyum sendirian. Melihat aksi risma itu, Rakhel, mas Bams, Oki, Eva, saya, dan Rina tentu saja tak mau kalah. Masing-masing mulai beraksi dengan gayanya sendiri. Entah siapa yang memulai, saya dan Rina kemudian terinspirasi untuk mengambil foto diantara Puspa Edelweiss dengan tulisan yang kami cuplik dari sajak Hok Gie yang menjadi favorit kami, Mandalawangi – Pangrango;

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna,
aku berbicara kepadamu tentang cinta dan keindahan.
Dan aku terima kau ke dalam keberadanmu
seperti kau terima daku,
//
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.

Saya masih ingat, awal perkenalan saya dengan sajak Hok Gie tersebut bersamaan dengan masa-masa awal kehidupan kemahasiswaan saya, sekitar medio tahun 2007 silam. Saat itu, selama masa OSPEK Fakultas, semua mahasiswa baru FHUI ditugaskan untuk membuat rangkuman tentang pemikiran Hok Gie dari Buku Catatan Seorang Demonstran dan Buku Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani nya John Maxwell. Saya benci OSPEK, tapi khusus untuk fragmen tugas ini, saya harus menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada panitia. Tanpa intervensi mereka, mungkin saya membutuhkan waktu lebih lama untuk berkenalan dengan Hok Gie, dengan segala macam ide nya, dan dengan segala rupa sajaknya.

Sejak saat itulah, intensitas “pertemuan” saya dengan Hok Gie semakin meningkat, terutama setelah saya kembali mengakrabi gunung-gunung. Di mana-mana, Sosok Hok Gie selalu muncul di depan muka saya. Kadang ia menjelma lewat sablonan wajah atau ungkapan-ungkapan khas nya di atas kaos, kadang lewat lagu-lagu kesukaannya yang didendangkan, atau terkadang pula lewat ide-ide dan tulisan-tulisannya yang didiskusikan secara antusias, di dalam tenda-tenda, atau di puncak-puncak gunung. Hok Gie seolah menjelma menjadi sosok panutan para pendaki.

Sayangnya, penokohan Hok Gie tersebut membuat risih sebagian kalangan. Lewat pamflet-pamflet di jejaring sosial atau blog-blog pribadi, mereka berusaha untuk mendekonstruksi sosok Hok Gie yang kadung terkenal sebagai salah satu panutan para pendaki. Buat para pengritiknya, dengan segala rupa dosa-dosa politik Hok Gie yang tega meninggalkan medan perjuangan di Jakarta dan lebih memilih mengasingkan diri ke puncak-puncak gunung, sosok Hok Gie dianggap sebagai pengkhianat pergerakan dan tidak layak untuk dijadikan idola. Terlebih lagi, Hok Gie juga mereka anggap telah berdosa besar karena mengampanyekan gerakan "anti politik" bagi para pemuda, dengan ajakan-ajakannya untuk Naik Gunung.

Memang harus diakui, Hok Gie bukan manusia sempurna. Selain kontribusi besarnya dalam bidang akademis, pergerakan, dan pendakian gunung, banyak pula noktah-noktah hitam kelam dalam lembaran hidupnya yang tidak dapat dinafikkan. Tapi, justru karena ketidaksempurnaannya itulah Hok Gie masih relevan, dan akan tetap relevan, untuk dijadikan panutan oleh manusia-manusia baru yang jauh dari kesempurnaan. Karena contoh semacam itu terlihat nyata, dekat, sehingga mudah untuk ditiru.

Lagipula, mengidolakan seseorang sebagai tokoh panutan itu sah-sah saja. Yang berbahaya adalah mengidolakan seseorang dengan membabi buta. Di titik ini, saya menganggap kritikan para "oposan" Hok Gie tersebut cukup penting. Kritikan tersebut dapat dianggap sebagai peluit yang mampu menjaga kesadaran dan menahan para pengagum Hok Gie agar tidak terjengkal dalam jurang fasisme akibat mengidolakan panutannya itu dengan membabi buta.

Ngomong-ngomong, kalau cinta buta terhadap suami/istri atau pacar, boleh?

***

--Catatan Sepulang Kantor, dari Stasiun Juanda sampai Pondok Cina (26/4/2018)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mandalawangi - Pangrango"

Post a Comment