Pengantar Menuju Dunia Nuri


Entah sejak kapan mulanya, yang jelas, sampai saat ini pun bapak masih saja kesulitan untuk memberi jawaban setiap kali ditanya ihwal masa-masa awal ketika Bapak baru dilahirkan di dunia. Kadang, bapak harus bertanya terlebih dahulu kepada mbah Uti dan mbah kung kamu, atau, terkadang pula Bapak harus membuka-buka Album foto lama sekadar untuk mengingat kembali kronik kehidupan masa lalu bapak agar bapak bisa memberikan sedikit respon terhadap pertanyaan itu.

Ingatan bapak memang payah, terutama ingatan-ingatan tentang periode awal kehidupan bapak semasa bapak masih bayi. Akibatnya, Bapak hanya memiliki sedikit sekali kenangan terkait fragmen-fragmen kehidupan Bapak pada masa itu. Jangankan ingatan tentang bagaimana ekspresi wajah mbah uti kamu ketika harus mengganti popok bapak atau kenangan tentang bagaimana cara mbah uti memaksa bapak agar bapak mau dimandikan, ingatan tentang rupa dukun pijat yang biasa memijat bapak sewaktu bapak masih bayi itu pun sudah menghilang ditelan waktu.

Tapi, kamu harus tahu, masalah ini tidak hanya menimpa Bapak seorang. Kata teman Bapak, sebagian besar manusia memang hanya mampu mengingat kenangan masa kecil yang mereka alami mulai usia 3 Tahun.

Barangkali kamu akan bertanya, "Lalu, kenangan yang terbentuk sejak usia 0 sampai sebelum 3 tahun itu kemana, Bapak? Sampai-sampai banyak orang yang sebegitu sulitnya mengingat segala macam peristiwa yang terjadi pada periode itu"

Ada yang bilang, Otak Bayi itu ibarat Saringan Santan dengan banyak lubang berukuran besar. Sedangkan memori seperti hal nya kelapa parut yang tengah diperas. Sehingga, dengan kondisi saringan seperti itu, sebagian besar dari kelapa parut yang disaring akan tetap lolos dari saringan, dan hanya sedikit saja yang akan tertinggal.

Namun, seiring berjalannya waktu, ketika manusia mulai tumbuh semakin besar, semakin dewasa, lubang saringan tersebut juga akan mulai mengecil, mengecil dan terus mengecil, sehingga memori yang terbentuk akan mudah tersaring dan banyak pula yang tertinggal. Seperti ampas kelapa yang akan tersisa lebih banyak ketika kita memeras santan menggunakan saringan dengan lubang-lubang berukuran kecil.

Karena itu, nduk, Menulis buku ini, bagi bapak, adalah salah satu upaya atau ikhtiar untuk merawat ingatan; Ingatan Bapak, Ingatan Ibuk, dan tentunya juga ingatan Kamu. Ada banyak hal, ada sekian laksa kejadian, ada sekian milyun kenangan tentang kamu, yang menurut bapak begitu sayang kalau hanya terkubur pelan-pelan oleh waktu. Kenangan-kenangan itu, ingatan-ingatan itu, harus terus mengada untuk menemani proses tumbuh kembang kamu menjadi Manusia yang sebenar-benarnya Manusia.

Lebih daripada itu, buku ini bapak tulis sebagai kado ulang tahun kamu yang pertama. Bukan tanpa sebab, karena Angka 1 (satu) atau urutan pertama, bagi bapak, selalu memiliki nilai yang sangat spesial. Perjalanan panjang ribuan langkah, selalu dimulai dari langkah pertama. Kehidupan manusia yang akan membentang selama sekian belas atau sekian puluh tahun, juga bermula dari tahun pertama.

Pada setiap hal yang pertama itulah kamu akan berpijak untuk mengambil ancang-ancang mengarungi hidup. Dan buku ini, dengan segala rupa dan segala warna cerita kamu semasa bayi, semoga dapat menjadi salah satu dasar pijakan yang kuat untuk kamu dalam meniti waktu.

Salam Sayang,
Bapak.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengantar Menuju Dunia Nuri"

Post a Comment