Nuri dan Jalan-Jalan

Setiap kali Nuri mulai merasakan kebosanan akut karena sudah terlalu lama rebahan di kasur, ia akan meneriakkan kode-kode tertentu supaya Bapak atau Ibuknya mau mengangkat dan menggendong tubuh mungilnya itu.
Tapi, tak hanya sekadar digendong, ia juga memaksa agar siapapun yang menggendongnya mau mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah.
Nuri memang senang sekali diajak jalan-jalan. Mungkin, dengan jalan-jalan keluar rumah itu, ia bisa leluasa melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri. Bagi Nuri, Dunia luar seolah merupakan keajaiban yang tak ada habisnya untuk dikagumi. Karenanya, alih-alih menangis atau merengek-rengek, setiap kali diajak bepergian keluar, ia selalu tertawa-tawa atau berdiam diri dengan sorot mata yang menggambarkan kekaguman terhadap segala rupa dunia yang ada di sekelilingnya.
Terkait kelakuan nuri ini, dengan setengah bercanda Ibuk nya selalu bilang, "Gimana Nuri nggak suka jalan-jalan, lawong sejak dalam kandungan saja dia sudah diajak wira-wiri bahkan sampai harus naik turun gunung."
Barangkali ibuknya benar. Saya masih ingat betul. Pada akhir Januari Tahun 2016 lalu, pagi-pagi sekali, setelah keluar dari kamar mandi, dengan serta merta ibuk nya Nuri menyodorkan sesuatu ke arah saya.
"Coba Lihat, mas!", Katanya pendek.
Tak sabar, segera saya ambil benda yang ia sodorkan itu. Ternyata alat tes kehamilan berbentuk lempeng panjang. Ada dua garis yang terlihat di sana.
"Positif!", Gumam saya waktu itu.
Raut keterkejutan tentu saja tidak bisa disembunyikan dari wajah kami berdua. Tapi, yang jelas, kami sangat bahagia.
Setelah mengetahui hasil tes kehamilan itu, kami tidak langsung pergi ke Dokter atau Bidan untuk melakukan validasi apakah hasil tes sederhana tersebut tepat, tapi kami lebih memilih untuk pergi ke Curug Leuwihejo, bersama jabang bayi yang baru kami ketahui keberadaannya di Kandungan beberapa menit sebelumnya.
Sepertinya, pengalaman Nuri yang terus menerus diajak jalan dan jalan-jalan selama di kandungan begitu membekas dalam dirinya. Pengalaman itu pada akhirnya menjadi semacam kebiasaan yang turut dibawanya bahkan setelah ia lahir ke dunia.
Saya sangat bersyukur melihat kondisi Nuri saat ini yang begitu senang ketika diajak jalan-jalan. Karena seperti membaca buku, jalan-jalan bisa membuka dan memperkaya pikiran.
Kelak, setelah Nuri bisa melangkah dengan kakinya sendiri, kegemarannya berjalan-jalan, ditambah dengan kesukaannya membaca buku, akan membentuknya menjadi manusia yang bisa berfikir terbuka. Karena setiap kali ia melangkahkan kaki, ia akan bertemu dengan banyak manusia-manusia lain dengan ide dan pemikiran yang beraneka ragam. Ia akan dibuat terpesona, dan ia akan belajar dari mereka.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Nuri dan Jalan-Jalan"

Post a Comment