Ihwal Berat Badan Perempuan

Kemaren Sore Nuri diajak Ibuk ke tempat praktek dari seorang Bidan. Kalau boleh jujur, Sebetulnya penggunaan kata diajak itu kurang tepat, yang lebih tepat adalah dipaksa. "Diajak" memungkinkan adanya Penolakan, sedangkan "Dipaksa" meniadakan kemungkinan penolakan itu. Tentu saja dalam hal ajakan ke Tempat Bidan ini Nuri tidak bisa mengajukan penolakan sama sekali. Pokoknya apa kata ibuk, harus Nuri Ikuti. Bukankah ini masuk dalam Kategori Pemaksaan?
Awalnya Nuri tidak tahu apa yang mau Ibuk lakukan di sana, sampai akhirnya ada beberapa Orang yang kemudian mempertanyakan tujuan kami. Kepada orang-orang itu, ibuk selalu menjawab dengan ringkas dan lugas, "Mau Kontrol dan Imunisasi."
"Waduh, Imunisasi? bakal disuntik dong?", pikir Nuri waktu itu.
Dulu, Nuri sempat merasa Takut dengan yang namanya Jarum suntik. Kata orang, disuntik itu rasanya sakit. Tapi Ibuk selalu bilang, seorang jagoan seperti Nuri, pasti tahan dengan rasa sakit akibat suntikan. Toh, rasa sakitnya juga tidak berlangsung lama.
Ungkapan Ibuk itulah yang pada akhirnya mampu menenangkan perasaan Nuri, setelah sebelumnya Nuri sempat dibuat Shock ketika mendengar rencana Ibuk untuk mengimunisasi Putri Semata Wayangnya ini. Ungkapan itu pula yang membuat perjalanan Nuri menuju ke tempat praktek Ibu Bidan tidak terasa sebagai beban lagi.
Asal kalian tahu, tempat praktek Bidan yang menjadi tujuan kami berada tidak terlalu jauh dan hanya berjarak beberapa blok saja dari rumah. Sehingga, hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ke sana. Sesampainya di tempat itu, Badan Nuri langsung ditimbang, untuk melihat sejauh mana perkembangan dan pertumbuhan Nuri selama satu bulan.
Yang unik, Baru sebentar saja Badan Nuri ditaruh di atas Timbangan, dengan antusiasnya Ibuk langsung bertanya, "Berat Badannya Berapa, Bu?"
"Mmm, 5,2 Kg, Mbak", jawab Bidan itu pendek.
Nuri ingat, beberapa orang pernah Bilang bahwa Berat Badan adalah salah satu dari sekian topik pertanyaan yang haram untuk diajukan kepada para perempuan. Tingkat Sensitifitas nya terlalu tinggi, seperti hal nya sensitifitas Kaum Beragama yang baru menginjak masa Pubertas, terutama ketika mereka dihadapkan dengan Orang atau Pendapat yang berbeda.
Bapak juga sering bercerita tentang bagaimana kawan-kawan bapak sampai ada yang mengeluarkan berbagai macam umpatan atau sumpah serapah ketika disodori dengan pertanyaan ihwal berat Badan itu. Buat Nuri, Respon dalam bentuk kata-kata kasar itu Terlalu lebay dan berlebihan.
Tapi, Jujur saja, di umur yang sudah menginjak kepala satu (bulan) ini, Nuri masih belum sanggup mencerna kenapa pertanyaan remeh temeh semacam itu bisa menyulut emosi kaum hawa, bahkan sampai membuat mereka memberikan respon berlebihan seperti itu.
Apa Mungkin ketidakpahaman Nuri tersebut disebabkan oleh rendahnya sensitifitas Nuri karena Nuri sudah terlampau sering berhadapan atau dihadapkan dengan pertanyaan serupa? Atau, apakah karena dari awal Nuri memang sudah tidak terlalu mempersoalkan tendensi dari setiap pertanyaan seputar Berat Badan itu?
Yang jelas, sejak pertama kali melihat dunia, Nuri sudah dihujani dengan pertanyaan Haram yang dibenci oleh sebagian perempuan itu. Tentu pertanyaan itu disampaikan lewat wasilah bapak atau Ibuk, berhubung Nuri masih belum bisa naik ke Alat Timbangan sendiri, dan belum sanggup mengukur berat badan sendiri.
Kalimat semacam, "Berapa Beratnya, Rin?", atau, "Bobot Nuri Berapa, Masdan", adalah jenis pertanyaan yang paling sering diajukan selain pertanyaan tentang Jenis Kelamin. Bedanya, pertanyaan perihal jenis Kelamin hanya ditanyakan berkali-kali pada saat hari kelahiran, atau dalam rentang waktu seminggu setelah kelahiran. Sedangkan pertanyaan berapa Berat Badan Nuri akan selalu ditanyakan secara berulang-ulang sampai entah kapan.
Seingat Nuri, orang yang paling sering menanyakan Berapa Berat Badan Nuri adalah Bapak Nuri sendiri. Kata Bapak, sewaktu Nuri lahir, hasil timbangan berat Badan Nuri sebesar 3,4 Kilogram. Tapi, seiring berjalannya waktu, berat Badan tersebut kemudian bertambah dengan sangat drastis.
Pertambahan Inipun sebenarnya hanya perkiraan bapak dan Ibuk saja. Karena sejak lahir, badan Nuri memang belum pernah ditimbang lagi. Ukuran yang mereka pakai untuk memperkirakan Pertambahan Berat Badan ini adalah dari seberapa cepat Bapak dan Ibuk merasa Capek ketika menggendong Nuri. 
Menurut pengakuan bapak, Semakin kesini, bapak dan Ibuk jadi lebih cepat merasa capek ketika menggendong Nuri. Jauh berbeda dengan Kondisi dulu, ketika pertama kali Nuri Lahir dan Melihat Dunia.
Entah kebetulan atau tidak, perkiraan bapak dan ibuk ihwal pertambahan berat Badan Nuri tersebut ternyata memang sesuai dengan hasil timbangan badan Nuri Kemaren Sore. Dari yang awalnya 3,4 Kg ketika lahir, saat ini sudah meningkat menjadi 5,2 Kg. Dari hasil timbangan ini, terlihat ada penambahan berat badan sebesar 1,8 kg.
Penambahan berat badan sampai 1,8 kg ini bisa dibilang memiliki pengaruh yang cukup besar, terutama bagi para perempuan seperti Bulik Mpit. Buat mereka, apabila terjadi kenaikan berat badan dengan jumlah sebesar itu, respon pertama Bulik Mpit Fitri Anggraeni Harahap sudah pasti bisa ditebak, yaitu dengan mengikrarkan sebuah Rencana untuk melakukan Diet Ketat.
Lalu, apakah Nuri juga harus menirunya?

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ihwal Berat Badan Perempuan"

Post a Comment