Mengasihani Teroris

Ada bom lagi, ada ledakan lagi, dan ada Korban Jiwa lagi. Kali ini, kata bapak, korbannya adalah seorang Balita. Namanya Intan, lengkapnya Intan Olivia. Usianya tidak terpaut jauh dari Usia Nuri.
Terhadap tragedi itu, tentu saja Nuri ikut bersedih dan berduka. Tapi, yang membuat Nuri akhirnya merasa lebih sedih adalah, di usia Intan yang masih sangat belia itu, Ia sudah harus menyaksikan sisi paling kelam dari seorang manusia, di mana atas nama Agama, seseorang bisa bertindak sedemikian bodoh dan biadabnya sampai-sampai ia tega melakukan pengrusakan terhadap tempat ibadah agama lain, bahkan sampai menyebabkan korban Jiwa yang jumlahnya kadang tak terkira. Benar-benar sebuah ironi yang membuat nilai manusia dan kemanusiaan jatuh sampai pada titik Nadhir nya.
Terlebih lagi, masih banyak kalangan yang membenarkan atau menolerir tindakan biadab itu dengan berbagai macam alasan. Salah satu alasan yang paling populer dan paling sering digunakan adalah dengan menyebut tindakan keji itu sebagai hasil konspirasi atau operasi intelijen untuk menyudutkan umat Islam.
Mereka dengan entengnya juga sering menganggap pengeboman itu sebagai suatu kejadian yang cukup wajar dengan cara membanding-bandingkan aksi tersebut dengan tragedi serupa namun dengan kadar yang lebih besar seperti yang tengah terjadi di Palestina ataupun Siria. Sebuah Cara pandang dan cara berpikir yang membuat Nuri hanya mampu geleng-geleng kepala dan berucap, "Naudzubillah!"
Pelaku pengeboman itu sendiri, saat ditangkap oleh warga sekitar, tengah mengenakan Kaos dengan sablonan yang bertuliskan "Jihad, Way of Life". Apabila slogan yang ada di Kaos tersebut dikaitkan dengan tindak Pengeboman yang dilakukan oleh orang yang mengenakannya, maka dengan mudah kita bisa menebak dari latar belakang apa si Pelaku itu Berasal. Betul, dari mana lagi kalau bukan dari kalangan Ekstrimis Islam?
Tebakan di atas pada kenyataannya memang sesuai dengan keterangan resmi yang disampaikan oleh pihak berwajib. Lihat saja, beberapa saat setelah Pelaku pengeboman berhasil ditangkap, di depan para awak media, pihak kepolisian menyatakan bahwa Pelaku aksi teror dan pembunuhan tersebut dipastikan berasal dari jaringan teroris Kawakan yang pernah terlibat dalam aksi pengeboman di bebarapa tempat.
Yang membuat Nuri tidak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang yang mengaku beragama dan bertuhan, yang mengaku memiliki Nabi dan Kitab suci, pada akhirnya bisa bertindak sebiadab itu? Melakukan pengeboman dan pembunuhan yang katanya diperintahkan oleh agama mereka. Apa mungkin karena mereka berhasil dibohongi PAKAI ayat-ayat Kitab Suci oleh mereka yang mengaku dan menyebut dirinya sendiri sebagai Ulama?
Kalau pun memang benar seperti itu, pertanyaannya bisa diperpanjang lagi: Ulama macam apa yang membenarkan, atau bahkan, menyarankan tindakan terorisme yang sangat biadab seperti itu? Bahkan Nabi sendiri, seperti yang digambarkan dalam Sirah Nabawiyyah, melarang adanya pengrusakan terhadap tempat ibadah dan pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak ketika Perang sedang berkecamuk. Apalagi dalam masa-masa Damai, seperti kondisi saat ini.
Sedangkan orang-orang yang berjalan di atas jalur Terorisme itu, seperti yang kita tahu sendiri, secara terang-terangan malah "melompati pagar" dengan melakukan semua tindakan yang sebenarnya dilarang oleh Nabi yang katanya mereka anggap sebagai panutan itu. Bukankah hal ini terlihat kontradiktif? Sungguh, Nuri benar-benar ingin tahu, Nabi mana yang sebenarnya mereka tiru dan ikuti?
Tapi, apapun yang sebenarnya ada di kepala dan benak mereka, yang jelas, Nuri merasa bahwa orang-orang seperti itu memang patut untuk dikasihani, bukan malah dibenci. Seperti yang pernah dibilang oleh Bapak Nuri, bahwa Kebencian dan Kasih Sayang adalah dua hal yang saling bertentangan dan bertolak belakang. Tidak akan ada kebencian bagi orang yang di hatinya dipenuhi oleh perasaan kasih Sayang. Begitu juga sebaliknya, tidak ada kasih sayang bagi mereka yang di hatinya masih diliputi oleh kebencian, seperti para Pengebom rumah ibadah itu.
Maka, untuk orang-orang fakir kasih seperti itu, ada baiknya kita tunaikan zakat kasih sayang kita terhadap mereka. Caranya? Sadarkan mereka. Jangan biarkan ketololan seperti itu berkembang biak dan menjangkiti orang lain. Lawan Propaganda Keislaman mereka dengan cara sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Kalau bisa dengan status Facebook, tulislah. Kalau bisa dengan foto instagram, unggahlah. Atau kalau masih belum berani atau belum bisa melakukan usaha seperti itu, doakan mereka. Wallahu a'lam


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mengasihani Teroris"

Post a Comment