AADC dan Helvy Tiana

Dalam rentang waktu Dua Bulan Terakhir ini, setiap kali bepergian ke suatu Daerah, saya lebih memilih untuk tidur di dalam Pesawat. Badan yang sudah terlalu capek akibat aktifitas rutin harian adalah alasan utama dibalik pilihan saya itu. Namun, pada penerbangan dari Jakarta menuju Batam kemaren pagi, mata saya seolah enggan untuk diajak terpejam. Entah kenapa. Padahal, sekujur badan sudah terlalu payah karna tubuh saya baru bisa rebahan dan tidur sekitar jam 11 an malam. Sedangkan keesokan harinya saya sudah harus berangkat dari rumah menuju Bandara sekitar jam 3 pagi.
Saya kemudian hanya bisa terpaku memandangi Kumpulan awan yang ada di Luar Jendela. Karena sudah terlalu Bosan dengan pemandangan itu, tak lama kemudian perhatian saya langsung saya alihkan ke arah layar video yang ada di depan Kursi. Ketika melihat daftar Film yang disediakan oleh Pihak Maskapai, saya langsung terkesiap. Ternyata, dalam rentang waktu dua bulan itu, ada cukup banyak hiburan dalam pesawat yang sudah saya lewatkan: salah satunya adalah Film AADC 2.
AADC 2 adalah Sekuel dari Film Fenomenal AADC yang dibintangi oleh satu-satunya Ratu Indonesia, Dian Sastrowardoyo. Iya, anda tidak salah baca. Ratu Indonesia, bukan Putri Indonesia ataupun Miss Indonesia. Putri Indonesia atau Miss Indonesia setiap Tahun bisa berganti, tapi untuk Ratu Indonesia, selamanya akan tetap menjadi milik Dian Sastro.
Bagi penggemar berat AADC dan Dian Sastro seperti saya, tentu AADC 2 adalah salah satu Film yang wajib untuk ditonton. Meskipun demikian, sampai detik ini saya belum pernah sekalipun menjalankan kewajiban itu. Alasan utamanya tentu saja karena saya merasa takut untuk dikecewakan. Apalagi setelah mendengar ulasan film twrsebut dari beberapa Kawan, ketakutan saya menjadi semakin bertambah,-tambah. Seolah-olah, hal itu membenarkan Nubuat yang disampaikan Sapardi Djoko Damono, bahwa “Yang Fana adalah AADC, Dian Sastro Abadi”.
Akibat dibayangi oleh rasa takut itu,, Film AADC 2 yang sudah ada di hadapan saya saat itupun pada akhirnya saya lewatkan juga. Saya lebih memilih untuk menonton Film India yang berjudul Prem Ratan Dhan Payo selama penerbangan. Lumayan, 1,5 jam waktu tempuh dari Jakarta menuju Batam tidak terasa menjemukan lagi karena adanya Sonam Kapoor.
Saya kemudian teringat dengan masa-masa ketika gaung AADC kembali menggema di Jagad media. Saya masih ingat betul, saat itu Helvy Tiana Rosa juga berencana untuk membuat Film serupa namun dalam versi yang Berbeda. Dalam hal ini, Helvy sempat berkata, "...Ingin bikin (Film) seperti AADC (tapi) versi religi". Kalimat tersebut ia ungkapkan kepada reporter Kantor Berita Antara di sela-sela acara Wardah Day, bulan Juni Tahun lalu. Saat itu, Helvy tengah sibuk mempersiapkan sebuah Film religi hasil adaptasi dari Cerpen lawasnya yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi atau biasa disingkat KMGP. Dalam Kesempatan itu pula, Helvy sempat menyatakan bahwa Pembaca KMGP yang dulunya masih SMP atau SMA, sekarang sudah menjadi keluarga kelas menengah muslim. Artinya apa? “itu berarti pasar", Kata Helvy lebih lanjut.
Dari kedua ungkapan Helvy tersebut, bisa ditarik dua kesimpulan mendasar. Pertama, Helvy terlihat Jeli dalam melihat Peluang. Dia sadar ada ceruk pasar yang cukup besar yang bisa ia masuki melalui Pembuatan Film Religi dengan judul KMGP itu. Dia tidak menampik bahwa saat ini Religiusitas sudah menjelma menjadi komoditas yang sangat menggiurkan untuk diperdagangkan. Karna itu, jangan terlampau heran apabila akhir-akhir ini terjadi Booming Jilbab Halal, meningkatnya permintaan terhadap Cluster Perumahan Muslim, melejitnya minat terhadap Asuransi Syariah dan Tabungan Syariah, atau meledaknya Penerbitan Buku-Buku dan Film-Film dengan nuansa Islami. Dan, di atas fenomena yang terakhir inilah harapan Helvy untuk kesuksesan Film KMGP digantungkan.
Kedua, ungkapan helvy tersebut juga memperlihatkan bagaimana model dari pola pikir kita sekarang. Saat ini, orang-orang cenderung untuk berfikir secara Hitam putih. Dalam konteks Helvy, yang ada hanyalah Film Religius dan non Religius. Istilah Religius sendiri, bagi Helvy, sangat terkait dengan simbol-simbol dan slogan-slogan Agama. Seperti Jilbab, Shalat, Assalaamu’alaikum, Haji, Ustadz, dan sebagainya. Maka, berdasarkan perspektif ini, Film Religius bagi Helvy adalah Film-Film dengan Adegan, Dialog, Wardrobe atau Setting Tempat yang mengandung simbol-simbol tersebut. Begitu pula sebaliknya, Film yang di dalamnya tidak mengandung simbol-simbol vulgar Agama, bisa dianggap sebagai Film Non Religius.
Dengan pola pikir seperti ini, Jelas, AADC bagi Helvy masuk dalam kategori Film non Religius. Tak ada simbol-simbol agama yang terlihat di sana. Sebaliknya, KMGP adalah Film Religi yang nenampilkan simbol-simbol agama secara vulgar. Untuk klaim Kedua, tentu saja saya sepakat dengan Helvy. Sedangkan untuk klaim Helvy yang pertama bahwa AADC adalah Film Non Religius, dengan tegas akan saya tolak.
Memang, secara sekilas, dengan mengikuti Pola Pikir Helvy tentang relasi antara religiusitas dengan simbol-simbol agama itu, bisa jadi kita akan mengamini pandangan Helvy bahwa AADC adalah Film Non Religius. Bagaimana tidak, Film Remaja yang dibintangi oleh Dian Sastro, Sissy Prissilia, atau Ladya Cheryl ini dengan gamblangnya mempertontonkan begitu banyak adegan “minor”, seperti Percobaan Bunuh Diri, Tuduhan PKI, Tawuran Remaja, sampai Ciuman basah di Bandara.
Pertanyaannya kemudian, apakah film seperti AADC itu selamanya hanya akan dianggap sebagai produk seni yang jauh dari nilai-nilai Agama? Lalu, Apakah Religiusitas itu hanya melulu berkaitan dengan simbol-simbol agama? Terlebih lagi, apakah konsep oposisi biner a la Helvy Tiana Rosa yang mengelompokkan sebuah Film hanya dalam dua kategori bertentangan -Religius dan Non Religius- itu cukup relevan?
Ketiga pertanyaan tersebut bisa dijawab hanya dengan Kata: Tidak!. Betul, sesederhana itu. Coba Pikirkan, adakah yang bisa menyangkal dan meragukan betapa Istiqamahnya sosok Cinta dalam menjaga dan merawat harapannya terhadap Rangga? Padahal, seperti yang kita tahu, bahwa Islam sebegitu tingginya memandang Nilai dari sebuah Keistiqamahan. Sampai-sampai ada Pemeo yang berbunyi, al Istiqamatu khairun min alf Karamah. Maksudnya, perilaku Istiqamah itu masih jauh lebih baik dibanding seribu Keajaiban.
“Tapi itu kan dalam Konteks Ibadah”, barangkali anda akan menyangkal dengan berkata seperti itu. Benar, keutamaan dari Perilaku Istiqamah tersebut memang berlaku dalam tataran Ibadah saja. Akan tetapi, untuk dapat memahami konsep itu hingga sampai pada tahapan praktek, anda bisa belajar dari apa saja dan siapa saja. Termasuk belajar dari dramaturgi Kisah Percintaan Rangga dengan Cinta dalam Film AADC.
Jangankan belajar dari seorang Manusia, Rasulullah saja pernah menggunakan contoh dari dunia hewan untuk Mendidik Umat yang dikasihinya. Saat itu, untuk menggambarkan bagaimana seorang mu’min harus bertindak dan berperilaku, Rasulullah menggunakan perumpaan seekor Lebah. Lebah dianghap sebagai contoh yang paripurna karena hewan satu ini hanya mencecap makanan yang baik, serta mengeluarkan sesuatu yang baik Pula.
Karena itu, seorang Mu’min sangat diharapkan bisa mencontoh perilaku dari hewan yang suka hidup berkoloni itu. Sehingga, apabila masih ada kata-kata “anjing” atau “babi” yang keluar dari Mulut seorang Muslim, atau, apabila masih ada berbagai macam Kerusakan yang diproduksi oleh tangan atau kaki meskipun dengan dalih pembelaan terhadap agama, maka bisa dipastikan bahwa Manusia tersebut masih sangat jauh dari sosok yang digadang-gadang Rasulullah sebagai seorang Mu’min yang Baik.
Selain nilai-nilai Keistiqamahan itu, masih banyak lagi nilai-nilai Religius yang juga bisa dipelajari dari AADC. Misalnya saja, Ketaatan Anak Terhadap Orang Tua seperti yang digambarkan Rangga ketika harus mengikuti Ayahnya ke Amerika dengan mengorbankan Cinta, Ukhuwah atau Persatuan yang digalang oleh Cinta bersama dengan Kawan Sepermainannya hingga masing -masing dari mereka bisa merasakan apa yang dirasa oleh Kawan Karibnya, sampai Perjuangan yang Tidak Kenal Putus Asa yang digambarkan oleh Cinta ketika harus mengejar Rangga ke Bandara, dan sebagainya, dan seterusnya. Akan sangat menghabiskan waktu apabila semua Nilai Religius dari Film AADC harus dituliskan.
Di atas itu semua, ketiga pertanyaan tersebut sebenarnya tidak perlu diutarakan atau dipertanyakan apabila Helvy bisa memahami bahwa Religiusitas tidak hanya identik dengan simbol-simbol agama saja. Religiusitas memiliki cakupan yang lebih luas dari itu. Terlebih lagi, ketidakpahaman ini juga diperparah dengan aggapan bahwa apa yang diyakini oleh Helvy merupakan kebenaran tunggal yang tidak terbantahkan, sedangkan pandangan lain yang berbeda secara tidak langsung dianggap salah. Dari model berpikir seperti ini, lahirlah konsep Labelling dan oposisi Biner ala Helvy: Film Religius vs Non Religius atau AADC vs KMGP.
Kita tahu, Saat ini konsep Labelling dan Oposisi Biner a ala Helvy itu sepertinya sudah sangat menggejala sedemikian rupa. Sehingga, jangan heran apabila suatu saat anda akan dianggap sebagai seorang Murtad atau Munafik hanya karena anda memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan “mereka”. Karena Mereka semua Suci, dan Anda Penuh Dosa! Wallahu a’lam.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "AADC dan Helvy Tiana"

Post a Comment