Tentang Sajak Malam Lebaran

Ribut-Ribut soal Tafsir al-Maidah ayat 51 membuat saya langsung teringat dengan sajak dari Sitor Situmorang yang berjudul “Malam Lebaran”. Dalam sajaknya itu, Sitor menulis, pendek saja:

MALAM LEBARAN 
Bulan di atas kuburan. 
Meskipun pendek, sajak Sitor tersebut menjadi begitu populer di kalangan para kritikus dan peminat sastra. Sajaknya dibicarakan dan didiskusikan di mana-mana. Besarnya minat terhadap Sajak Malam Lebaran ini, menurut Pamusuk Eneste, paling tidak disebabkan oleh dua hal; Pertama, Karena Sajak itu Begitu Pendek, dan yang Kedua, karena orang-orang begitu sulit untuk menafsirkannya.
Sejak pertama kali diterbitkan sampai dengan sekarang, tidak terhitung sudah berapa kepala yang mencoba menafsirkan sajak yang terdapat dalam Buku Antologi Puisi berjudul “Dalam Sajak” itu. J.U. Nasution, misalnya, pernah menyatakan bahwa Sitor Situmorang ingin menceritakan suasana pada malam lebaran lewat sajak yang ditulisnya itu. Namun, menurut kritikus Sastra aliran Rawamangun ini, sajak Malam Lebaran meninggalkan kontradiksi-kontradiksi faktual dan ilmiah yang cukup fatal, sehingga ia mengajukan ketidaksepakatannya kepada Sitor.
Nasution meyakini bahwa pada malam lebaran, bulan hanya bisa dilihat secara sekilas. Kemunculanya hanya sebentar saja. Sehingga, ia pun berkesimpulan bahwa tidak mungkin pada malam lebaran ada bulan di atas kuburan. Secara lebih lengkap, Nasution menulis, “Bulan pada waktu itu tentu payah dilihat, karena baru satu hari muncul dan tak mungkin terlihat di sebelah atas. Menurut pengetahuan saya, pada satu hari bulan waktu itu, bulan tingginya hanya beberapa derajat. Kalaupun terlihat hanya sebentar saja. Jadi kemungkinan bulan di atas kuburan pada malam lebaran tak ada.”
Berdasarkan argumentasinya itu, J.U. Nasution kemudian sampai pada satu kesimpulan bahwa apa yang dimaksud malam lebaran oleh Sitor mungkin saja adalah Malam Tahun Baru Masehi. Karena pada Malam Tahun Baru itu, keberadaan dan penampakan Bulan di atas Kuburan, Seperti apa yang digambarkan dalam Sajak Sitor, tentunya lebih masuk akal.
Berbeda dengan pandangan J.U. Nasution yang melihat Sajak Malam Lebaran dari sisi Koherensinya dengan Hukum Alam, Soebagio Sastrowardoyo melihat bahwa Sajak Malam Lebaran Sitor lebih mengarah pada Simbolitas atau Perlambang. Menurutnya, Sitor ingin menggambarkan sebuah kondisi tertentu dengan menggunakan simbol atau perlambang berupa Bulan di atas Kuburan yang terlihat saat Malam Lebaran. Kata Soebagio, “Malam Lebaran Sitor adalah Puncak bicara perlambang di dalam sajak. Tetapi dengan demikian juga merupakan tingkat akhir bicara perlambang yang masih mungkin dimengerti orang.” Pandangan Soebagio ini sebenarnya cukup menarik, tapi pandangannya itu sayangnya tidak disertai elaborasi atau penjelasan lebih lanjut mengenai perlambang apa yang menurutnya ingin digambarkan oleh Sitor melalui sajaknya itu.
Pendekatan yang digunakan oleh Soebagio tersebut kemudian dipakai pula oleh Umar Junus. Junus lebih memilih untuk menggunakan pendekatan simbolik, karena menurutnya, Jika sebuah Sajak belum dapat ditafsirkan secara Struktural karena sebab-sebab tertentu, maka diperlukan penafsiran secara simbolik. Sajak Sitor berjudul Malam Lebaran, karena saking pendeknya, tentu saja sangat sulit atau bahkan tidak mungkin ditafsirkan secara struktural. Di titik inilah pendekatan Simbolik kemudian menemukan peranannya.
Melalui pendekatan Simbolik itu, Umar Junus kemudian mencoba untuk menafsirkan Sajak pendek berjudul Malam Lebaran yang ditulis oleh Sitor Situmorang. Daei hasil penafsirannya itu, Menurut Junus, Sajak Sitor tersebut paling tidak memiliki dua makna, yaitu, “(a) pertentangan antara pengertian ‘bulan’ dan ‘kuburan’. ‘bulan’ selalu dihubungkan dengan sesuatu yang romantis, sesuatu yang berhubungan dengan mimpi, pembentukan masa (depan) yang indah. Sebaliknya, ‘kuburan’ berhubungan dengan kesedihan, dengan tidak adanya masa depan. Dengan begitu, keseluruhan baris itu berarti ‘kegembiraan di atas kesedihan’. Keseluruhan sajak akhirnya berarti ‘Malam Lebaran merupakan kegembiraan diantara begitu banyak kesedihan’. (b) Pada waktu malam lebaran, bulan tidak mungkin berada di atas kuburan, karena bulan ketika itu hanya timbul sebentar saja sesudah matahari terbenam dan biasanya kelihatan pada pinggir laut. Dengan begitu, ‘bulan di atas kuburan’ adalah suatu ilusi atau impian belaka. Dan dengan begitu, keseluruhan sajak itu berarti ‘Kegembiraan itu hanyalah suatu impian’.”
Apabila dilihat dari hasil tafsiran di atas, meskipun obyek tafsirannya sama, namun ada perbedaan yang cukup mencolok antara hasil penafsiran Nasution, Sastrowardoyo dan Umar Junus. Masing-masing, dengan cara dan metode yang berbeda, serta berbekal pengetahuan dan pengalaman yang berbeda pula, ternyata menghasilkan penafsiran yang beraneka ragam. Akan tetapi, apabila meminjam istilah Khaled Abou el Fadl dalam Musyawarah Buku, Nasution, Sastrowardoyo dan Junus dengan semua tafsirannya itu baru sampai pada Kebenaran Parsial nya masing-masing (Bukan Kebenaran Relatif). Sedangkan kebenaran Mutlak terkait makna dari Sajak Malam Lebaran tentu saja ada pada Penulisnya, Sitor Situmorang. Hal ini senada dengan apa yang diyakini oleh Hegel. Bagi Hegel, karya seni, termasuk sajak, adalah ekspresi diri dari si subyek atau si Penyair. Keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Seperti yang diungkapkan Usmar Ismail, “Pencipta manakah yang tidak terikat dalam ciptaannya?”
Pandangan Khaled Abou el Fadl, Hegel maupun Usmar Ismail tersebut sebenarnya sangat bertolak belakang dengan pendapat Teeuw. Bagi Teeuw, Keterangan Seorang Penyair atau pengarang tidak perlu diperhatikan dalam usaha untuk menjelaskan atau menginterpretasikan karyanya. Apa yang dimaksud Teeuw ini selaras dengan pandangan Barthes ihwal diktum Kematian sang Penulis. Akan tetapi, dalam tulisan ini, kita kesampingkan dulu pandangan Posmo ala Barthes dengan berpegang pada pandangan Abou el Fadl, Hegel dan Usmar Ismail.
Apabila berpijak pada pandangan ketiganya, tentu saja kita perlu mendapatkan penjelasan langsung dari Si Empunya Malam Lebaran untuk mengetahui makna sebenarnya dari Sajak tersebut. Dalam hal ini, kita beruntung, karena Sitor pernah menyinggung mengenai Latar Belakang Penulisan Malam Lebaran pada saat Kongres Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional di Denpasar, sekira Tahun 1957. Akan tetapi, seperti yang diakuinya sendiri, penjelasan yang ia sampaikan pada acara tersebut tidak terlalu lengkap. Penjelasan yang lebih lengkap kemudian ia tuliskan dalam Buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid II.
Dalam buku yang disunting oleh Pamusuk Eneste itu, sitor menulis,, “Tahun 1954, Jakarta. Beberapa hari sesudah Hari Raya Idulfitri Umat Islam. Suatu sore saya berniat pergi bertamu ke rumah Pramoedya Ananta Toer, untuk kunjungan halal bi halal. Apa Lacur, rumah (gubuk)-nya di daerah Kober sepi orang dan hari sudah malam ketika saya sampai. Kecewa amat rasanya!
Pulang dari daerah perkampungan tempat tinggalnya, yang berselokan-selokan mampet yang bau busuk, saya kesasar ke suatu tempat yang penuh pohon-pohon tua dan rimbun, serta dikelilingi tembok. Ada bulan. Karena kepingin tahu ada apa di balik tembok yang seperti tembok loji di Jawa itu, saya mendekatinya. Berdiri berjingkat, di atas seonggok batu di kaki tembok, saya berhasil melongok mencari tahu ada apa di balik tembok itu: ternyata pekuburan berisi berbagai ragam bentuk kuburan berwarna putih, tertimpa sinar bulan di sela-sela bayangan dedaunan pepohonan! Pekuburan tua orang eropa penuh tanda salib!
Saya Terpesona, sejenak saja, mungkin hanya beberapa detik, mengamati tamasya itu! Bahkan terpukau seperti tersihir. Saya lalu berpaling, turun dari onggokan batu. Rasa kecewa kini diharu biru oleh kesan,
“Bulan di atas Kuburan (Rekaman ingatan dalam kata-kata)”.
Kesan yang terumus dalam kata-kata secara spontan itu, terucap dalam hati berulang-ulang, terus menerus memburu ingatan, kemudian melemah, tapi tidak lenyap sama sekali, di saat saya mendekati jalan raya, yang penuh keriuhan lalu lintas.
Saya merasa terasing dari bunyi kesibukan, walaupun jelas tetap mampu bergerak melakukan apa yang harus dilakukan: mencegat oplet tumpangan pulang.
Pulang? Tujuan Rutin, ke rumah sendiri, terasa hilang arti. Bulan itu, Kuburan itu. Kematian, sedang di atas dan di sekelilingnya: dunia, ya, jagad yang berjalan dan beredar terus, di hari baik, di bulan baik orang percaya.”
Dari penjelasan sitor tersebut, terlihat jelas adanya perbedaan yang cukup mendasar antara hasil penafsiran Nasution, Sastrowardoyo, maupun umar Junus, dengan Pemaknaan Sitor Situmorang selaku penulis dan pemilik sah dari sajak Malam Lebaran. Dalam hal apresiasi Sastra, perbedaan ini menjadi fenomena yang sangat lumrah. Jauh berbeda dengan Apresiasi Kitab Suci, terutama dalam masa-masa Pilkada seperti sekarang ini. Bukan Begitu?
***
Di Kereta, dari senen menuju Semarang
28/10/2016

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tentang Sajak Malam Lebaran"

Post a Comment