Jagoan

Bukan tanpa sebab kalau kami menyebutmu jagoan. Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa kami bersepakat untuk memanggilmu dengan istilah itu. Misalnya saja sewaktu Kami membantu dalam proses Kelahiranmu tempo hari. Kami sadar, bahwa saat itu kamu tengah berjuang mati-matian agar bisa keluar dari rahim ibuk demi menjemput takdir hidupmu di dunia. Kami juga tahu bahwa perjuangan kamu saat itu tidaklah mudah, bahkan bisa dikatakan sangat berat. Meskipun demikian, dengan semangat dan usaha yang tak kenal lelah disertai dukungan yang begitu total dari Ibuk, kamu bisa melewati ujian pertama dengan sangat baik. Kamu, pada akhirnya, bisa terlahir ke dunia dengan sehat, selamat dan Sempurna. Bukankah itu Jagoan?
Contoh lain, sewaktu pertama kali melihat dunia, tanpa aba-aba terlebih dahulu kamu langsung menangis dengan sangat keras. Lalu, ketika kamu sudah berada dalam dekapan Ibuk, kamu langsung bersin-bersin dengan tidak karuan. Awalnya kami khawatir. Tapi, kata Ibu Bidan, tindakan kamu itu malahan sangat meringankan kerja beliau, sehingga beliau tidak perlu repot-repot lagi untuk menyedot sisa-sisa air ketuban yang masih ada dalam rongga mulut dan hidung kamu. Bayangkan, setelah seharian penuh membantu kamu dalam proses kelahiran, ditambah lagi dengan puasa sunnah senin kamis yang tengah beliau kerjakan, pasti badan Ibu Bidan sudah sangat lelah dan payah. Hebatnya, kamu cukup sadar diri dengan membantu diri kamu sendiri lewat tangisan dan bersin itu, sehingga kamu tidak perlu lagi meminta tolong dengan merepotkan ibu bidan yang sudah sangat repot. Bukankah itu juga Jagoan?
Selain dua hal di atas, sebenarnya masih banyak alasan lain di balik penyebutan istilah jagoan itu. Tidak pernah menangis Ketika Dimandikan, Selalu berontak setiap kali dibedong, minta makan ketika lapar dengan cara yang sangat sopan, dan jarang merengek ketika terjaga di tengah malam adalah beberapa contoh dari kelakuan kamu yang menurut kami sangat luat biasa. Bahkan, ketika telinga kamu ditindik pun, kamu hanya merengek sebentar kemudian langsung tertawa. Tidak ada tangisan yang membahana. Sampai-sampai Ibu bidan pun terkesima melihat respon kamu itu. Benar-benar Jagoan!
Sampai di satu titik, muncullah persoalan itu. Ada banyak orang yang kemudian bertanya, "Kok Jagoan?"
Kami, Bapak dan Ibuk Kamu, sebenarnya sudah paham kemana arah dari pertanyaan itu. Mereka yang bertanya demikian menurut anggapan kami hanya sedang merasakan ketidaknyamanan kultural saja. Sebuah rasa yang terwakili secara sempurna dalam Pertanyaan dan pernyataan, "Perempuan kok dipanggil Jagoan?"
Pertanyaan mereka itu malah membuat kami ingin bertanya balik, apa salahnya memanggil Perempuan dengan sebutan Jagoan? Toh, tidak ada aturan yang secara eksplisit melarang hal itu. Lagipula, Istilah Jagoan adalah sebuah Kata sifat yang bisa dinisbatkan kepada subyek apa pun. Si Tinggi atau Pendek, Islam atau Budha, Papua atau Tionghoa, Indonesia atau China, Lelaki atau Perempuan, Manusia atau Binatang, asal memenuhi semua kriteria yang dipersyaratkan secara obyektif, tentu bisa dipanggil dengan sebutan itu. Maka, sangat tidak relevan kiranya apabila menautkan istilah jagoan kepada jenis kelamin tertentu. Apabila tetap memaksakan diri untuk menisbatkan istilah itu hanya kepada seseorang dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan saja, kita sudah terjebak pada tindakan otoriter dan Diskriminatif. Dan, kamu tahu nduk? Sialnya, saat ini kita sedang berada pada kondisi yang kami sebut belakangan.
Yang lebih memuakkan sebenarnya adalah, setiap kali orang-orang bertanya, "Anaknya Laki-Laki atau Perempuan, mbak, mas?", lalu kami jawab, "Perempuan", dan mereka, dengan kata-kata sok bijaknya kemudia menimpali, "Ooh, Nggak apa-apa, Mas, Mbak. Yang penting bayinya Sehat".
Kata "Nggak apa-apa" itu, nduk, sebenarnya adalah tanda dari sisa-sisa Budaya masa lalu yang menganggap Laki-Laki memiliki posisi yang lebih utama dibanding Perempuan. "Nggak apa-apa" adalah remah-remah dari Budaya diskriminatif yang coba diangkat-angkat kembali oleh segerombolan kecil orang fasis berbekal pemahaman yang dangkal terhadap dalil-dalil keagamaan.
Memang, seperti itulah jalannya roda dunia, nduk. Kedepannya, kamu akan menghadapi banyak persoalan seperti itu. Pilihannya hanya ada dua, Menerima dengan apa adanya, atau melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Apabila kamu mengambil pilihan pertama, hidupmu mungkin akan baik-baik saja. Kebutuhanmu akan tetap tercukupi, dan jauh dari hiruk pikuk sosial yang bisa membuat kamu merasa tertekan. Seperti orang dalam Penjara yang tidak perlu memikirkan apa-apa lagi, karena kebutuhan makan dan minumnya sudah dicukupi. Mereka hanya perlu kerja, kerja, dan kerja seperti apa yang dikondisikan untuk mereka. Meskipun demikian, buat kami, harganya terlalu mahal. Karena ketenangan dan kepastian hidup dalam penjara itu harus ditebus dengan menggadaikan potensi diri dan Kebebasan mereka.
Sedangkan apabila kamu cenderung pada pilihan kedua, hidup kamu akan jauh dari yang namanya Tenang dan Tentram. Kamu akan berhadapan dengan segala macam petualangan, intrik dan perjuangan. Di sini, Kamu tidak boleh berleha-leha. Kamu harus berusaha keras untuk memegang teguh keyakinan kamu. Meskipun nanti Kamu akan bertemu dengan banyak lawan, kamu juga akan dipertemukan juga dengan sahabat-sahabat seperjuangan yang akan berjuang bersama-sama dengan kamu. Kamu tidak akan kesepian. Mungkin, nanti kamu perlu berkenalan dengan Joseph Campbell lewat buku yang menurut kami begitu menakjubkan, The Hero With a Thousand Faces. Kamu pasti suka. Di buku itu, nduk, boleh jadi kamu bisa melihat gambaran dari diri kamu sendiri.
Pada akhirnya, apapun nanti pilihan kamu, bapak dan ibuk cuma berpesan, teruslah belajar, teruslah membaca. Jangan pernah berhenti Belajar dan Jangan pernah berhenti membaca. Ingat, Gusti Allah, Tuhanmu dan Tuhan Semesta alam, akan selalu ada untuk mereka yang selalu Belajar. Dan, Satu lagi, apapun yang dibilang Orang, ingatlah bahwa kamu adalah Jagoan!
Wallahu a'lam.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Jagoan"

Post a Comment