Perpisahan di Bulan Juli

Masih terbayang jelas dalam ingatan saya, jumat pagi itu, setelah bersusah payah menahan luapan emosi selama beberapa waktu, pertahanan kami pun akhirnya porak poranda. Kami semua menangis sejadi-jadinya. Mata kami merah lebam. Pipi kami basah akibat deraian air mata yang tak kunjung sirna.
Perpisahan memang selalu menyisakan sebuah luka. Seperti ikatan tali temali, semakin kuat dan erat ikatan yang terbentuk, semakin sulit pula ikatan itu untuk lepas. Bahkan apabila ikatan itu berhasil (di)lepas pun, selalu saja ada guratan-guratan luka yang timbul akibat gesekan antar temali yang sudah kadung menyatu.
Dalam hal perpisahan ini, manusia tak ubahnya seperti temali itu. Gesekan yang terjadi antara harapan untuk bersama dan kenyataan untuk berpisah menggoreskan luka yang menyayat hati. Bedanya, manusia punya emosi, temali tidak. Sehingga, tak jarang pula, air mata ikut tumpah akibat letupan-letupan emosi yang menggelegak di relung Hati.
Begitupun dengan kami. Saat itu, pada Jumat Pagi di akhir bulan Juli 2010, kami harus angkat kaki dari sana, dari tempat yang begitu dalam meninggalkan bekas di hati, dari Dusun Punti Tapau, salah satu Kampung Perbatasan di Kecamatan Entikong di mana kami sempat tinggal selama satu bulan penuh untuk menjalankan Program K2N atau Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia.
Anda bisa bilang bahwa satu bulan sebenarnya bukan waktu yang lama. Tapi, hey ... bukankah kualitas ikatan emosional itu tidak melulu hanya bergantung pada kuantitas waktu belaka, Pada sebentar atau lamanya pertemuan? Bukankah Pada pandangan pertama, yang rentang waktunya hanya selama satu Kedipan Mata saja, Seorang lelaki atau perempuan yang memandang lawan jenisnya secara tidak sengaja, bisa langsung jatuh hati dan memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dan erat dengan sosok yang dipandangnya itu?
Kalau anda percaya dengan Fenomena di atas, Boleh jadi, kami mengalami hal seperti itu. Meskipun pendek, waktu satu bulan dengan segala macam dinamika kehidupan yang kami alami dan jalani di sana, membuat kami langsung terpesona dan jatuh hati dengan Punti Tapau, sehingga, ikatan emosional kami dengan Dusun Perbatasan itu menjadi sangat erat. Buat saya sendiri, Punti Tapau dengan Kalalo nya, dengan Jingson nya, dengan Naya nya, dengan Ngep nya, dengan Nova nya, dengan Jason nya, dengan Miti nya, dengan Pak Kiyong nya, dengan Samou Sabu nya, dengan Pak Thomas Alat nya, dengan Pak Tarno nya, dengan Pongan-pongan (babi) yang berkeliaran di halaman nya, dengan Kosuh-Kosuh (anjing) nya, dengan bau tanah yang bercampur dengan kotoran nya, dengan terik matahari Khatulistiwa nya, dengan Gemericik air di Pancuran depan rumah nya, dan dengan semuanya saja yang pernah menyapa mata saya, telinga saya, hidung saya, kulit saya dan mulut saya, membuat saya merasa sangat berat untuk meninggalkan Dusun kecil yang letaknya cukup terisolir itu.
Saya masih sangat ingat, pagi itu, kami sudah berada di SD Tapau bersama dengan anak-anak yang biasa menemani kami bermain dan Belajar. Saat itu, sebagai tanda Perpisahan, kami bawakan puding satu Loyang yang sudah kami persiapkan sejak malam sebelumnya. Bersama puding ala kadarnya itu, kami sertakan pula lilin-lilin kecil untuk ditaruh dan dinyalakan di atasnya. Dengan bekal puding dan Lilin tersebut, kami membayangkan bahwa perpisahan kami dengan anak-anak itu akan serupa dengan Pesta Ulang Tahun yang penuh canda dan gelak tawa. Ketika Lilin dinyalakan, ditiup dan akhirnya padam, akan ada tepuk tangan meriah dan teriakan-teriakan bahagia penuh doa dari mulut mereka. Tapi, angan-angan kami hanya berhenti menjadi sebatas angan-angan belaka. Di hadapan kami hanya ada wajah-wajah murung yang penuh dengan duka. Tak ada tawa, tak ada tepuk tangan meriah yang menyertai tiupan lilin di atas puding yang kami bawa. Rupa-Rupanya, kesedihan itu bukan hanya menjadi monopoli kami. Kesedihan itu menjadi milik bersama. Kami pun berpelukan, sambil terisak.
Sekitaran pukul 10 Siang, ojek kampung yang akan mengantar kami ke Kecamatan akhirnya tersedia. Satu persatu, kami pergi meninggalkan kampung Perbatasan itu. Anak-anak dan orang-orang tua berdiri berjejer di depan Gereja sambil melambaikan tangannya kepada kami. Saya yang berangkat paling akhir sempat menolehkan wajah ke arah mereka. Berat rasanya meninggalkan dusun itu. Serasa tidak rela, serasa tidak tega. Seolah ada bagian dari diri saya yang tertinggal di sana. Pelan-pelan, Air mata pun kembali mengalir membasahi Pipi. Perpisahan memang selalu menyisakan sebuah luka.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perpisahan di Bulan Juli"

Post a Comment