Gunung Slamet, Hok Gie dan Slogan Semu Kehidupan

Istilah “Proposal”, bisa jadi, merupakan salah satu produk penting -kalau tidak boleh dikatakan paling penting- dari Eufimisme bahasa para Aktivis dan Mahasiswa. Istilah tersebut diciptakan dan digulirkan sebagai pengganti dari kata “minta-minta” atau “mengemis” yang terkesan rendahan, kotor, dan menjijikkan. Untuk lebih menyamarkan bentuk dari eufimisme ini, disisipkan pula pernak-pernik tambahan yang dinamakan Prestasi dan Kontraprestasi. Sehingga, keterkaitan makna antara Proposal dengan “mengemis” dan ”minta-minta” terlihat semakin kabur. Tak perlu terlampau heran dengan fenomena ini, karna ketika kita menenteng map bening berisi program-program yang butuh pendanaan, lalu ada kawan yang bertanya, “mau kemana?”, jawaban semacam “Mau Mengantar Proposal Acara ke Tokoh X atau Perusahaan Y” akan jauh terdengar lebih mentereng daripada sekadar bilang “Mau Minta-Minta Dana” atau “Mengemis Rupiah". Jujur saja, bukankah kita memang lebih suka dengan label-label mentereng seperti itu?
Meskipun demikian, masih ada beberapa mahasiswa yang tidak terlalu mengindahkan aspek kesopanan lewat penggunaan Eufimisme bahasa ini. Mereka lebih cenderung untuk berkata blak-blakan dan apa adanya. Pada medio tahun 60-an misalnya, ketika tim Mapala UI yang dipimpin oleh Hok Gie berencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet, mereka sempat dihadapkan pada permasalahan klasik terkait tetek bengek Pendanaan. Namun, alih-alih menggunakan istilah Proposal, dengan nyaman dan tanpa beban, Para mahasiswa Pecinta Alam itu, dengan diwakili oleh Hok Gie, lebih memilih untuk menggunakan istilah mengemis demi mendapatkan tambahan rupiah untuk melengkapi bekal pendakiannya. Dalam catatan Perjalanan yang ia tulis secara berseri untuk Harian Kompas tertanggal 14, 15, 16, dan 18 September 1967, Hok Gie menyatakan, "Seminggu sebelum berangkat kawan – kawan mulai mengemis. Hasilnya terkumpul Rp. 3.300,00 ditambah dengan obat-obatan (dari Apotik Titi Murni) dan beberapa buah barang kalengan."
Pilihan terhadap penggunaan istilah mengemis ini tidak hanya bermula dan berhenti pada tataran ucapan belaka. Kalau dirunut lebih jauh kebelakang, Pilihan ini merupakan manifestasi dari penolakan Hok Gie dan Kawan-kawannya terhadap slogan-slogan bombastis yang cenderung melenakan dan menipu. Seperti pada zaman Orsoe alias Orde Soeharto, ketika eufimisme bahasa ini menemukan kejayaannya lewat berbagai macam slogan dan jebakan kata yang terlihat sopan namun penuh dengan tipuan. Contoh nyata bisa dilihat dari kalimat khas Harmoko ini, "Sesuai petunjuk bapak Presiden, mulai besok Harga Barang-Barang Pokok akan disesuaikan". Disesuaikan adalah produk dari eufimisme bahasa untuk menggantikan kata dinaikkan. Kenapa ini penting? Buat sebagian besar rakyat, kenaikan harga barang, terutama harga barang-barang pokok, kadang lebih menakutkan dibanding setan-setan yang bergentayangan di Kuburan. Apalagi bagi mereka yang memiliki pendapatan yang tergolong rendah. Dan Kebetulan pula, Rakyat berpenghasilan rendah ini merupakan bagian terbesar dari komposisi warga negara Indonesia kala itu. Mereka adalah Mayoritas. Mayoritas dengan kantong dan Nafas yang kembang Kempis di tengah himpitan dan ketidakpastian hidup yang semakin keras dan ganas.
Soeharto mafhum, apabila kesadaran kaum mayoritas tadi terbangun, maka hanya dengan sulutan api kecil dalam bentuk kenaikan Harga Barang-barang Pokok saja, emosi warga akan meledak, karna kepentingan hidup mereka yang paling mendasar akan terciderai. Sehingga, mereka akan mudah sekali tergerak untuk melakukan aksi besar-besaran seperti Gerakan Tritura tempo dulu. Untuk mencegah dan meminimalisir potensi terjadinya malapetaka kekuasaan itu, kesadaran kaum mayoritas tadi perlu dinina bobokkan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan eufimisme bahasa tadi, di mana istilah Kenaikan Harga diperhalus dengan memperkenalkan Istilah pengganti, yaitu Penyesuaian Harga. Selain Penyesuaian harga, masih banyak tipuan-tipuan lain yang dihasilkan dari eufimisme bahasa berkedok slogan kesopanan ini, seperti Penertiban untuk mengganti kata Penggusuran, atau Kesalahan Prosedur untuk memperhalus istilah Tindak Pidana Korupsi. Benar-benar Setan Alas!
Kegeraman Hok Gie terhadap ungkapan-ungkapan penuh slogan yang cenderung menipu itu kemudian ia tunjukkan pula lewat Ungkapannya yang terkenal dan sering dikutip oleh para pecinta alam. Saat itu, Ketika calon Donatur yang disasar Hok Gie mempertanyakan tujuannya naik Gunung, Hok Gie dengan lugas menjawab, “ ... kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan–slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. "
Proses kelahiran Ungkapan Hok Gie tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial politik Indonesia kala itu. Seperti yang ia tulis sendiri dalam catatan perjalanannya di Gunung Slamet, saat itu slogan-slogan bombastis bertema patriotisme bertebaran di sana-sini. Mulai dari plang-plang Pancasila yang terpasang di warung-warung pinggir jalan, coretan-coretan "Pancasila Jiwaku" atau "Hidup Mati bersama Pancasila" sampai bacotan-bacotan semu tentang nasionalisme yang bikin keblinger, semuanya tumpah ruah dalam ruang Publik yang sudah terasa sesak namun bertambah semakin sesak akibat segala macam omong kosong itu. Melihat fenomena ini, dengan penuh keprihatinan, Hok Gie menulis, "Di mana-mana (ada) Pancasila, seperti juga di mana-mana (ada) kemiskinan." Masih dalam paragraf yang sama, ia kemudian menambahkan, "Saya sedih melihat inflasi Pancasila", kata Hok Gie.
Hok Gie memang pantas untuk bersedih hati. Negara yang menurutnya punya kewajiban untuk memberi makanan kepada rakyatnya yang kelaparan, justru malah bertindak abai dengan hanya menjejalkan placebo berupa slogan-slogan patriotisme yang melenakan. Slogan-slogan penuh tipuan itu digembar-gemborkan supaya rakyat lupa pada rasa laparnya. Meskipun perutnya masih kosong melompong.
Terlebih lagi, sebelum Hok Gie menyaksikan inflasi pancasila pasca pendakiannya di Gunung Slamet itu, pada bulan september tahun 65, Hok Gie terlebih dulu sempat menyaksikan gemerlap slogan-slogan patriotisme yang sama namun dalam bentuknya yang lain. Saat itu, ketika Hok Gie melakukan pendakian ke Gunung Merapi bersama kawan-kawannya dari Mapala UI, ia melihat slogan Nasakom tercecer di mana-mana. Coretan semacam "Nasakom Jiwaku" atau "Anti Nasakom = Anti Pancasila" menjadi pemandangan yang lumrah. Bahkan, menurut kesaksian Hok Gie sendiri, atap-atap rumah penduduk pun sampai ditulisi dengan jargon politik Soekarno saat masih berkuasa dulu, seperti "MANIPOL/USDEK", alias Manifesto politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.
Memang benar, Beda zaman, beda keadaan. Beda penguasa, beda pula slogan yang dibawa. Hok Gie sadar betul dengan aturan dasar ini. Maka, ketika turun dari Gunung Slamet dan melihat Slogan semu Pancasila khas Orsoe tiba-tiba muncul di depan mukanya, dia bilang ke Satrio, salah satu kawannya di Mapala UI yang menemaninya mendaki, "Sat, coba kamu ganti Pancasila dengan Nasakom. Ampera dengan Revolusi. Manipol dengan Catur Karya. Nekolim dengan Subversif Cina RRC. Semuanya akan klop deh." Satrio langsung terdiam setelah mendengar tuturan Hok Gie itu. Entah setuju, entah tidak. Yang Jelas, ungkapan Hok Gie tersebut masih terlihat relevan sampai sekarang.
Meskipun relevan, ada beda antara dulu dengan sekarang. Pada zaman Hok Gie dulu, satu-satunya aktor yang berperan menjejalkan Slogan-Slogan semu tersebut adalah Negara beserta perangkatnya sekaligus. Peran dominan dari Negara ini tidak bisa dilepaskan dari sistem Orla dan Orsoe yang cenderung Sentralistik dan Otoriter. Sedangkan sekarang, seiring dengan proses demokratisasi yang tengah berjalan -meski tertatih-, masing-masing golongan yang akhirnya menemukan kebebasannya yang selama ini terkungkung, berlomba-lomba untuk mengkampanyekan ide-idenya lewat slogan-slogan yang, sayangnya, juga semu dan cenderung kosong.
Kalimat semacam, “Revolusi Mental”, “Pemimpin Harus Muslim”, “Bersih dan Peduli”, “Khilafah akan Menyelesaikan segala Macam Masalah”, adalah beberapa contoh saja dari sekian banyak slogan-slogan yang berjejalan dalam ruang kehidupan kita sekarang.
Menyedihkan.
Tapi, lebih menyedihkan lagi karena slogan-slogan itu dilahap secara langsung oleh begitu banyak orang tanpa dikunyah terlebih dahulu. Akibatnya, mereka jadi terlena dan tertipu sehingga terciptalah kotak-kotak pembatas yang membagi masing-masing orang tersebut dalam golongan-golongan yang berbeda dan saling bertentangan. Masing-masing begitu keukeuh memegang teguh slogan dari golongannya masing-masing. Masing-masing saling menghujat dengan segala macam dalil kebenaran yang lebih cenderung berujung fitnah. Karena itu, di titik ini, ungkapan Hok Gie yang termaktub dalam Catatan Perjalanannya di Gunung Slamet sepertinya menemukan relevansinya. “Lakon yang tragis. Kisah Ratusan juta manusia Indonesia yang menjilat-jilat dan membutakan mata dengan slogan. Cry, My Beloved Country! Cry! Semoga kisah duka ini cepat berakhir."

***
Untuk Kawan-Kawan Gepang yang Baru Turun dari Pendakian Gunung Slamet.



Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Gunung Slamet, Hok Gie dan Slogan Semu Kehidupan "

Post a Comment