Sepakat Dalam Cinta: Sebuah Catatan Pendek Untuk Minda

Di Dalam salah satu bukunya yang berjudul Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Hamka pernah menyadur sebuah kisah Sufisme yang menurut saya sangat menarik. Dalam bukunya itu, hamka berkisah, bahwa suatu ketika, seorang sufi yang sangat terkenal pada zaman itu, Dzun Nun al-Misri, pernah melakukan perjalanan panjang yang cukup lama, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, sehingga, mau tidak mau, ia harus bertemu dan bersinggungan dengan banyak orang. Di tengah perjalanannya itu, Dzun Nun akhirnya berjumpa dengan seorang Rahib/Pastor. Kepada Rahib itu, Dzun Nun kemudian bertanya, “Menurut Anda, Cinta itu Apa?”, sontak, Sang Rahib itupun menjawab, “Cinta sejati tidak mau dibelah dua. Kalau cinta sudah tertumpah kepada Allah, tak ada lagi cinta selain pada-Nya. Jika tertumpah pada selain Allah, tak mungkin dipersatukan dengan cinta kepada-Nya. Sebab itu, renungilah dirimu pada siapa kau mencinta.” Setelah itu, keduanyapun saling melempar pertanyaan dan jawaban dengan lebih intens lagi.
Titik Temu Perbedaan

Harus diakui, Ada perbedaan yang sangat prinsipil diantara kedua insan dalam kisah di atas. Tentu saja, agama adalah salah satu unsur dominan yang membentuk perbedaan itu. Kisah di atas saya katakan menarik, karena dari sanalah terlihat adanya titik temu dari perbedaan yang ada diantara keduanya. Bisa dibayangkan, tidaklah mungkin seorang Sufi sekaligus ahli hukum Islam sekaliber Dzun Nun bertanya tentang syarat sah Shalat, aturan mengenai Zakat, Tata Cara Wudlu ataupun Rukun Haji kepada pastor itu, karena pada dasarnya, dalam bidang ini keduanya memiliki kompetensi yang jauh berbeda. Begitu juga sebaliknya. Tidak mungkin seorang Pastor bertanya mengenai Tata Cara Misa atau Ibadah-Ibadah Gerejawi lainnya kepada Dzun Nun. Kalaupun misalnya mereka tetap bersikukuh untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, tidak akan pernah ada titik temu diantara keduanya. Karena itulah, mereka mencari topik lain yang sekiranya mengandung benih-benih persamaan yang bisa mereka perbincangkan, dan pada akhirnya, persamaan itu mereka temukan dalam Cinta.
Berkebalikan dengan kisah di atas, sekarang ini, orang-orang lebih cenderung untuk mencari, bahkan mencari-cari, perbedaan-perbedaan yang ada daripada mencari persamaan diantara mereka. Padahal, sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pada dasarnya setiap manusia memang diciptakan berbeda. Lalu, kenapa kita masih mau menyibukkan diri untuk mencari-cari perbedaan yang sebetulnya hanya akan menyuburkan benih perpecahan? Kenapa, misalnya, kita tidak mencari dan menginventarisir persamaan-persamaan yang ada di antara kita saja, dimana dari persamaan itu kita bisa membangun jembatan komunikasi dan kerjasama demi menumbuhkembangkan kebersamaan dan persatuan diantara kita?
Tuhan pun, sebenarnya juga mengakui adanya perbedaan. Bahkan, Ia sendiri lah yang menciptakan perbedaan itu. Dalam salah satu bagian Al Qur’an, Tuhan pernah berujar, “Inna Khalaqnakum min Dzakarin wa Untsa wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila litaarrafu.“ Sesungguhnya Aku Ciptakan kalian dari Laki-Laki dan Perempuan, dan Aku jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Iya, Laki-Laki dan perempuan. Laki-Laki dan Perempuan adalah bentuk paripurna dari semua perbedaan-perbedaan yang menjadi keniscayaan manusia. Akan tetapi, perbedaan yang paling mendasar itu pun kemudian juga bisa diakomodir dan akhirnya bisa disandingkan lewat medium Pernikahan, seperti yang diperintahkan Tuhan. Karena memang, Pernikahan adalah bentuk tertinggi dari pengakuan Tuhan akan adanya Potensi Persatuan dalam ragam perbedaan diantara Manusia.
Kita dalam Cinta
Ada satu kondisi dimana kita, dengan mudahnya, bisa berdebat dengan panjang lebar mengenai Perbedaan-Perbedaan yang ada diantara kita. Kita pun juga bisa bertengkar, saling mengejek, saling mengumpat, atau saling mencaci tentang beberapa hal berbeda yang kita yakini. Tapi, di lain pihak, kalau kita mau, kita bisa memilih untuk bercakap-cakap tentang persamaan diantara kita, saling tertawa tentang hal yang sama, bercanda mengenai hal yang sama, atau saling mengisi, saling berbagi dan saling mendukung dalam hal yang sama pula. Memang Benar, aku dan kamu memiliki banyak sekali perbedaan. Tapi, aku selalu percaya, bahwa persamaan diantara kita masih jauh lebih banyak daripada perbedaan-perbedaan yang ada itu. Karna itu, seperti pesan yang terkandung dalam kisah sufi di atas, daripada aku dan kamu terus menerus terjebak pada dikotomi aku – kamu, agamaku – agama kamu, suku ku – suku kamu, yang sama sekali tidak akan pernah selesai, kenapa aku dan kamu tidak memulai untuk berbincang tentang “Kita” saja? atau, kenapa aku dan kamu tidak memulai untuk mencari persamaan atau titik temu yang bisa mempersatukan kita? barangkali, persamaan itu bisa kita temukan dalam sebuah bingkai yang biasa kita sebut dengan istilah, “Cinta”.
Wallahu a’lam.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sepakat Dalam Cinta: Sebuah Catatan Pendek Untuk Minda"

Post a Comment