Belajar dari Bunda Teresa

Menurut Shahibul Kisah, ketika Nabi Musa berangkat mencari Khidir untuk menuntut ilmu dengan berguru kepadanya, ia ditemani oleh salah seorang Khadam (Pelayan) yang bernama Nun. Suatu hari, di tengah perjalanan panjangnya itu, tiba-tiba Musa diserang oleh rasa lelah dan lapar yang sangat. Karna itu, segera saja ia memberi tanda kepada Nun agar mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut dengan bekal makanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah menemukan tempat agak rindang yang sesuai dengan keinginan Musa, keduanya pun buru-buru menghentikan langkah lalu duduk di atas batu yang ada di dekat mereka. Segera setelah itu, Musa bertanya pada Nun, “Nun, Sisa ikan yang Kita Makan tadi Mana? Saya lapar.” Dengan agak kaget, Nun menjawab, “Masya Allah Nabi, saya lupa. Ketika kita sampai di Majma’ al Bahrain, sisa Ikan yang kita Makan tadi tiba-tiba hidup kembali dan Loncat ke dalam air.”
Apakah gerangan yang dimaksud dengan Majma’al Bahrain itu? dan apa pula pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Majma’ berarti Pertemuan, Perjumpaan atau Perbenturan, sedangkan Bahrain berasal dari kata Bahr yang artinya Laut, dan Bahrainsendiri berarti dua Laut. Sehingga, Majma’ al Bahrain secara sederhana dapat diartikan sebagai pertemuan atau perbenturan antara dua laut. Kisah Majma’ al Bahrain ini, secara implisit menunjukkan kepada kita bahwa perbenturan-perbenturan yang dialami manusia dalam hidup, yang seolah-olah terlihat (atau sering dilihat) sebagai kesulitan, kepapaan, atau coba, sebenarnya merupakan sebuah pertanda bahwa pada kondisi yang saling berbenturan itu, sesuatu yang awalnya mati akan berubah menjadi hidup, sesuatu yang awalnya gelap akan berubah menjadi terang benderang, dan sesuatu yang awalnya buntu akan menjadi terbuka. Karena, dalam setiap perbenturan itulah Allah menyembunyikan Rahmat Kasih Sayang-Nya, dalam benturan-benturan itulah puncak kreatifitas manusia menemukan bentuknya yang paripurna, dan di sana jua lah ayat inna ma’al ‘usri yusra menemukan perwujudannya secara nyata.
Dalam tataran yang lebih praksis, benturan-benturan yang dialami manusia ini biasanya menjelma dalam bentuk “permasalahan/masalah”. Ketika manusia menghadapi sebuah masalah/problematika hidup, sebenarnya apa yang tengah ia alami adalah suatu proses perbenturan intens antara dunia ideal yang ia harapkan, dengan kenyataan-kenyataan yang seringkali jauh berkebalikan dengan apa yang diidealkannya itu. Masalah atau permasalahan inilah yang membuat manusia selalu bergerak secara dinamis karena mau tidak mau ia harus mampu merespon masalah itu dengan berkreasi sedemikian rupa sehingga masalah yang ia hadapi dapat diselesaikannya dengan baik. Apabila manusia berhasil keluar dari benturan-benturan itu dengan terselesaikannya/terpecahkannya masalah yang ia hadapi, hampir bisa dipastikan bahwa tingkat kedewasaannya akan meningkat, dan potensi kemanusiaannya akan semakin menjelma.
Bunda Teresa dan al Umm
Setiap kali saya teringat dengan kisah Majma’ al Bahrain di atas, saat itu juga sosok Bunda Teresa selalu terbayang dan terlintas dalam fikiran saya. Ya, Bunda Teresa. Siapa yang tidak mengenal sosok satu ini? Dengan tingkat popularitasnya yang begitu tinggi itu, hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang dari beragam kalangan pasti mengenal biarawati yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian ini. Bahkan, Saking terkenalnya, sampai-sampai Perempuan sederhana dari Skopje (Baca: Skupi) Albania yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya untuk melayani umat di belahan dunia lain (India) ini memiliki begitu banyak sebutan. William Jay Jacobs, misalnya, menyebut Bunda Teresa sebagai Helper of the Poor, Linda Johnson memanggilnya Protector of the Sick, Susan Ullstein menjulukinya Servant to the World’s Suffering People, dan Carol Greene menyebutnya sebagai Friend of the Friendless. Akan tetapi, diantara semua julukan itu, saya lebih suka menyebut Bunda Teresa sebagai Seorang Pecinta Sejati. Sama seperti Ikan panggang Musa yang tiba-tiba hidup ketika bertemu dengan pusaran arus dari dua laut yang saling berbenturan, seperti itu jua lah Pecinta sejati ini memulai kehidupannya di dunia. Tahun 1910, tepatnya pada tanggal 26 Agustus, di tengah pusaran krisis sosial politik dan perbenturan antar faksi agama dan etnis yang melanda Albania, Agnes Gonxha Bojaxhiu, atau yang dikemudian hari lebih kita kenal dengan sebutan Bunda Teresa ini, lahir dengan selamat dari keluarga Aristrokat Albania, dari pasangan suami istri Nikola Bojaxhiu dan Dranafile Bernai.
Harus saya akui, sepertinya, Richard Bach benar ketika ia menulis, “There is no such thing as a problem without a gift for you in its hand. You seek problems because you need their gifts.” Apabila ditelusuri dari sejarah kelahirannya, dapat dikatakan bahwa Gonxha, meminjam istilah Bach tadi, merupakan kado dari sebuah problematika serius yang menimpa Albania pada saat itu. Keringnya (atau bahkan Matinya?) Cinta dan Kasih sayang akibat Pertikaan tiada akhir antar beberapa kelompok etnis dan agama menjelang lepasnya Albania dari pendudukan Turki Usmani, ditambah dengan silang sengkarutnya politik kebangsaan antar faksi, seolah mendapatkan guyuran kesejukan dari mata air cinta dengan lahirnya seorang Gonxha. Terkait dengan hal ini, Greene menulis, “In the midst of these ethnic, national, and religious conflicts, a child was born in Skopje who would one day try to overcome these differences in order, as she said, to do God’s work on earth.” Dari titik ini, kemudian muncul rasa penasaran dalam benak saya, sebenarnya apa yang membentuk Gonxha sehingga ia bisa menjadi Seorang Teresa seperti yang kita kenal sekarang? menjadi Seorang Teresa dengan jiwa yang penuh dengan Cinta terhadap sesama?
Lewat penelusuruan terhadap buku Mother Teresa: A Biography yang ditulis oleh Meg Greene, sedikit banyak saya memperoleh jawaban dari rasa penasaran saya itu. Dari uraian Greene yang termaktub dalam buku tersebut, Nampak bahwa Dranafile Bernai, Ibu Gonxha, (selanjutnya akan saya singkat menjadi Drana) memiliki peran yang begitu besar dalam pembentukan watak dan karakter penuh cinta dari seorang Gonxha. Tidak mengherankan memang, karena pada dasarnya seorang Ibu adalah sekolah pertama dari seorang Anak, al Umm madrasat al Ula. Dan, Drana berhasil menjalankan perannya itu dengan sangat baik. Sampai-sampai, karena begitu melekatnya pengaruh Drana terhadap Gonxha dan Kedua anaknya yang lain, Drana sering dipanggil oleh ketiga anaknya itu dengan sebutan Nana Loke (Mother Soul), atau Ibunda Jiwa. Bahkan, di kemudian hari Gonxha sempat berujar, “Home is where the mother is,” Rumah, menurut Gonxha, adalah tempat di mana Seorang Ibu berada. Ungkapan Gonxha ini sejalan dengan makna al Umm secara kebahasaan, di mana banyak dari pakar bahasa mengartikan al Umm (Ibu) sebagai “Tempat Kembali”, seperti hal nya makna rumah.
Masih mengenai Drana, dari sekian banyak pengaruh yang ia tanamkan dalam diri Gonxha, menurut Greene, ada dua hal utama yang membentuk karakter Gonxha hingga ia mampu menjadi seorang Teresa yang begitu dikagumi oleh dunia. Pertama adalah Spiritualitas dan Ketaatan Drana terhadap agama, dan yang kedua adalah Perbuatan Baik yang selalu dilakukan Drana terhadap orang-orang papa di sekililingnya. Tak dapat disangkal, Drana adalah seorang penganut Katolik yang sangat Taat. Setiap waktu ketika petang datang menjelang, Drana dan keluarganya selalu rutin membaca Rosario. Drana pun juga selalu mengawasi ibadah anak-anaknya dengan ketat. Bahkan, Tidak hanya sekedar memastikan anak-anaknya menjalankan Ibadah keagamaan saja, berdasarkan uraian Greene, Drana juga memberikan contoh kepada anak-anaknya bagaimana cara agar ajaran-ajaran sosial keagamaan yang mereka yakini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain dari ketaatannya menjalankan Ibadah personal (kesalehan Ritual), kesalehan Drana juga Nampak dalam bidang sosial. Masih menurut Greene, dalam setiap kesempatan Drana selalu siap sedia untuk membantu siapapun yang sedang membutuhkan bantuannya. Tak peduli apapun agama dan etnisnya, jika ia melihat ada orang yang perlu dibantu, ia akan membantunya dengan segera. Untungnya, Nikola selalu mendukung semua kegiatan yang dilakukan Drana. Kadang, Nikola memberikan beberapa lembar uang kepada Drana untuk kemudian ia berikan lagi kepada anak-anak ataupun orang-orang miskin yang datang meminta bantuan ke Rumahnya. Bahkan, orang-orang ini tidak hanya dibantu dalam bentuk uang saja, lebih dari itu, Drana sering membesarkan hati mereka dengan mengajak mereka makan bersama di satu meja makan yang sama. Semua ini Drana lakukan, salah satunya agar anak-anaknya faham bahwa orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan sebenarnya adalah bagian dari Keluarga Besar Umat Manusia juga. Terkait dengan hal ini, Drana pernah berujar kepada anak-anaknya, “Some of them are our relations, but all of them are our people.” Selain menerima kedatangan orang-orang miskin di rumahnya, Drana juga sering mengunjungi rumah orang-orang miskin itu dengan membawakan mereka makanan, obat-obatan, dan kadangkala juga membawakan mereka uang. Apabila ada yang sakit, Drana, dengan bantuan Gonxha, merawat si sakit sampai sembuh. Akhirnya, sampai di satu titik, Semua Tindakan drana ini begitu melekat dalam diri Gonxha, dan berdasarkan nilai-nilai yang ditanamkan oleh Drana itulah sosok Teresa akhirnya bisa terlahir dari Rahim Kepribadian seorang Gonxha.
Belajarlah Sampai Ke Teresa 
Dahulu, Rasulullah Muhammad SAW sempat berujar, Uthlub al ‘ilm walau bi al Sin, Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China. Berdasarkan sabda ini, ada pertanyaan yang kemudian menyeruak, Kenapa Rasul yang agung tersebut memberikan arahan, bahkan perintah kepada umatnya untuk belajar sampai ke Negeri China? Padahal kita sama-sama tahu, bahwa pada saat itu Islam belum masuk dan menyebar sampai kesana. Ini artinya, bahwa semua penduduk China pada saat itu adalah non-muslim. Memang, ada beberapa interpretasi yang kemudian muncul dan berkembang terkait ucapan Rasulullah ini. Ada yang menafsirkan ungkapan tersebut sebagai salah satu dasar mengenai kewajiban menuntut ilmu sekaligus sebagai petunjuk bahwa kewajiban menuntut ilmu ini tidak dibatasi oleh adanya rentang Jarak, sehingga, bagi siapapun yang mau menuntut ilmu, mereka bisa mencarinya bahkan sampai ke tempat yang paling jauh sekalipun. Agak berbeda dengan Penafsiran pertama, penafsiran lain yang juga menyeruak terkait dengan sabda ini lebih menekankan pada argumen bahwa kewajiban menuntut ilmu yang ditekankan oleh Rasulullah tersebut, bisa dilakukan bahkan dengan berguru kepada orang-orang dari kalangan non Islam.
Terkait dengan penafsiran ini, Bunda Teresa merupakan contoh nyata yang bisa kita ketengahkan. Sosok perempuan satu ini, menurut saya, merupakan salah satu dari sedikit orang yang patut untuk dijadikan guru sekaligus teladan hidup. Cintanya terhadap orang papa, perhatiannya yang besar terhadap Pendidikan, Perdamaian dan kemanusiaan, serta keyakinannya yang begitu mendalam terhadap ajaran agama yang dipeluknya, merupakan beberapa contoh saja dari sekian banyaknya keteladanan yang pernah beliau lakukan dan tunjukkan semasa hidup. Dalam tulisan ini, saya memang tidak memiliki niatan untuk menulis ulang semua hal yang telah Bunda Teresa perbuat, karena sudah ada beberapa Buku yang mengupas sejarah perjalanan beliau dengan sangat baik. Diantara buku-buku tersebut, Salah satu yang menarik untuk dibaca adalah Buku Biografi Bunda Teresa tulisan Greene dan Buku suntingan Vardey yang berjudul a Simple Path. Dalam buku a Simple Path ini, ada bagian yang sangat berkesan bagi saya, yaitu kutipan puisi karya Bunda Teresa yang berjudul, Anyway.
People are often unreasonable, illogical and self-centered;Forgive them anyway.If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives;Be kind anyway.If you are successful, you will win some false friends and some true enemies;Succeed anyway.If you are honest and frank, people may cheat you;Be honest and frank anyway.What you spend years building, someone could destroy overnight;Build anyway.If you find serenity and happiness, they may be jealous;Be happy anyway.The good you do today, people will often forget tomorrow;Do good anyway.Give the world the best you have, and it may never be enough;Give the world the best you’ve got anyway.
Buat saya, puisi di atas memiliki makna yang begitu dalam, sehingga, saya hanya akan menyerahkan kepada para pembaca untuk menghayatinya sendiri. Terakhir, dengan sedikit menggubah Puisi Bunda Teresa di atas, saya ingin bilang, Ketika kamu belajar hal baru, bisa jadi orang-orang akan menganggapmu salah arah. Meskipun begitu, Belajarlah! Karena pada akhirnya, seseorang akan jatuh dalam lubang kebodohan bukan hanya karena tidak mau belajar, tapi juga karena sudah merasa pandai/merasa benar sendiri sehingga ia berhenti Belajar. Wallahu a’lam.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Belajar dari Bunda Teresa"

Post a Comment