Lubuk Kehidupan

“PAUSE!” Teriaknya. Dan… Film yang tengah diputar itupun Berhenti sejenak. Iya, Mendengar kata PAUSE, mengingatkan saya akan sepenggal obrolan dengan salah seorang teman. Dia Perempuan yang baik, pencinta pantai, tapi juga sangat terobsesi dengan penjelajahan Hutan dan pendakian Gunung. Jiwanya penuh dengan semangat pemberontakan yang menggebu-gebu, walaupun dibalik itu semua, sebenarnya ada banyak kekangan yang tengah membelenggunya. Namun, dengan pola kearifan tertentu, kekangan tersebut dia afirmasi sebagai bentuk kepatutan dan kewajaran hidup. Entah benar atau tidak, setidaknya itu yang saya rasakan mengenai dirinya.
Antara Gunung dengan Pantai
Saat itu, saya baru selesai menghadiri resepsi pernikahan salah seorang teman di gedung Al-Irsyad, Kota Tegal. Sambil menanti jadwal keberangkatan kereta menuju Jakarta, saya coba berkeliling kota dengan berjalan kaki. Setelah berjalan dari satu gang ke gang yang lain, akhirnya sampailah saya di Alun-Alun kota Tegal. Di sana, saya duduk termangu, memandang bulan yang tengah berada dalam bentuknya yang paling sempurna. Di samping saya ada satu keluarga. Mereka terlihat sangat antusias menikmati kebersamaan walaupun hanya dengan duduk melingkar, lesehan di atas rumput, sambil makan gorengan yang harganya tidak seberapa. Berbekal kamera pocket usang, saya ambil potret mereka. Entah karena apa, tiba-tiba, sang suami menghampiri saya. Dia melemparkan senyum kemudian menyapa saya dengan ramah. Singkat kata, kami bercakap-cakap dengan panjang lebar, hingga sampailah kami pada bahasan mengenai kota Tegal. Dari keterangan beliau, dapat saya ketahui bahwa sebenarnya alun-alun Tegal terletak sangat dekat dengan Pantai. Karena cukup mengenal dan tahu akan preferensi teman perempuan saya itu terhadap pantai, saya mengirim pesan pendek kepadanya.
“Saat ini, aku berada sangat dekat sekali dengan pantai, kurang lebih sekitar 1 km”.
Beberapa waktu kemudian ponsel saya bergetar, ada pesan baru yang masuk. Setelah saya buka, ternyata benar, dari teman saya. Mungkin karena dia ingat bahwa saya sering bercerita mengenai pengalaman saya ketika naik gunung, dia membalas pesan saya itu dengan satu bentuk pertanyaan pendek,
“Antara Pantai dan Gunung, mana yang lebih kamu sukai?”
Pertanyaan teman saya itu sebenarnya tidak sesulit pertanyaan Dosen Mata Kuliah Filsafat Hukum ataupun Sosiologi Hukum yang pernah saya ikuti, misalnya. Tapi, apa yang ditanyakannya itu nyatanya sukses membuat saya tertunduk diam, merenung. Bagaimana tidak, Kalau ditelaah lebih mendalam, sebenarnya preferensi seseorang terhadap sesuatu hal itu bukan sekedar cerminan akan rasa suka. Preferensi punya makna yang lebih dari itu. Preferensi sebenarnya adalah cerminan bagaimana seseorang memandang hidup melalui simbol-simbol alam. Ketika ditanya, “Kamu suka Pantai atau gunung?”, terus terang I Love Both of them, saya suka keduanya. Karena dari pantai saya belajar keterbukaan dan kejujuran. Lihat saja, orang-orang pesisir, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kawasan pegunungan, orang-orang pesisir itu punya budaya yang lebih egaliter. Kenapa? Karena mereka lebih sering bersinggungan dengan pendatang dari luar daerahnya. Akibatnya, mau tidak mau mereka menjadi manusia yang lebih terbuka, jujur, dan hal ini mereka tunjukkan dengan selalu menggunakan bahasa yang blak-blakan ketika berbicara dan bercakap-cakap. Mereka Anti Eufimisme. Betapa hebatnya Pantai.
“Sedangkan dari gunung?”. Dari gunung saya belajar kesabaran. Pengalaman ketika mendaki gunung mengajari saya, bahwa ketika saya punya keinginan kuat untuk menggapai titik tertinggi demi menapakkan kaki di puncak, kadang saya harus berhadapan dengan berbagai macam halangan. Akibatnya, saya harus berputar mencari jalan yang lebih landai, walaupun hal ini memakan waktu yang lebih lama. Tapi, langkahkan kakimu dengan percaya diri, setapak, dua tapak, dan ketika ini dilakukan dengan penuh kesabaran, maka puncak bukanlah sesuatu hal yang mustahil untuk dicapai. Dalam hal ini, saya teringat dengan salah satu buku yang ditulis oleh Dewi Lestari. Di buku itu, Dewi menulis, “Untuk menggapai puncak kesuksesan, kadang kita harus beputar, berputar, bahkan berputar menjadi bukan diri kita, untuk kembali menjadi kita yang sesungguhnya.” (Dewi Lestari, 2005). Iya, Dewi Benar.
Sungai dan Lubuk
Betul Saya menyukai Pantai. Betul Juga Bahwa Saya menyukai Gunung. Tapi, diantara keduanya saya lebih menyukai sungai. Jembatan yang mempertemukan gunung dengan pantai.
Teman perempuan itu kemudian bertanya lagi, sangat singkat, “Sungai?”
“Iya, Sungai”, Jawab saya. Pantai dan Gunung memang bisa dijadikan cerminan kehidupan. Tapi, Sungai is life itself. Sungai adalah kehidupan itu sendiri. Dahulu, ketika masih duduk di bangku Sekolah, kita pernah diajari Praktikum bukan? Maka, sekarang ini, mari kita lakukan praktikum sederhana. Coba kita posisikan diri kita layaknya air sungai. Kalau direnungkan dengan seksama, sebenarnya perjalanan hidup kita ini seperti aliran air sungai. Kadang lurus lancar, namun, kadangkala juga berliku karena adanya kelokan. Dari kelokan itulah air punya peluang dan kesempatan untuk menggerus tanah yang dilewatinya. Bukankah ketika kita dihadapkan pada liku hidup, kita sering mencederai orang lain, menggerus hidupnya demi kelangsungan alur hidup kita?
Dan, setelah melewati satu kelokan, air akan terus mengalir dan mengalir. Tak jarang, aliran air itu akan bertemu dengan kelokan kedua, ketiga dan seterusnya yang bisa jadi memiliki tikungan yang lebih tajam dari kelokan yang pertama, akibatnya aliran airmu akan menggerus lebih banyak tanah, airmu akan semakin keruh, begitu juga dengan hidupmu. Sewaktu aliran airmu bertemu dengan batu, air pun bereaksi dengan memunculkan riak, memunculkan gelombang. Hidup kitapun juga beriak ketika berbenturan dengn permasalahan dalam bentuk apapun, tapi, you know what, riak air adalah tanda kehidupan. Ikan lebih bersemangat hidup ketika berada dalam riak air, bukan?. Bahkan, tubuhnya lebih cepat berkembang karena jiwa raganya selalu bergerak, merespon semua rangsang tantangan yang dihasilkan oleh riak air itu. Akan tetapi, di atas itu semua, selama alur hidupnya, air sungai yang suci, yang berasal dari hulu, bakal tercemar oleh kotoran-kotoran yang bersumber dari banyak tempat, seperti halnya sampah domestik berupa detergent, plastik, guguran daun atau limbah, yang kesemuanya menyebabkan air sungai tak lagi layak untuk dikonsumsi. Kotoran-kotoran itu menyebabkan airmu tidak memberikan manfaat lagi. Padahal, kalau kita mau jujur dan mengakui bahwa khoirun Nas ‘anfa’uhum lin Nas adalah sebuah kebenaran, maka adagium itu tidak akan pernah kamu penuhi ketika airmu seperti air comberan. Kotor, dan Busuk.
Untuk itulah Sungai perlu lubuk untuk mengendapkan kotoran demi menjernihkan airnya lagi. Untuk apa? untuk kemudian dialirkan kembali menuju Muara Pantai. Dari bayangan akan alur hidup sungai ini, saya sadar, bahwa kadangkala kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan kita, kita perlu PAUSE, merenung, untuk menciptakan lubuk kehidupan, agar semua kotoran-kotoran hidup kita terendap. Demi kefitrian kita, menuju sang Khalik. Wallahu a’lam.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Lubuk Kehidupan"

Post a Comment