Matinya Egoisme

Barangkali, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar yang mampu dirasakan umat manusia selain  dari kebahagiaan seorang pecinta ketika bertemu dan berkumpul dengan orang yang dicintainya. Bahkan demi meraih kebahagiaan ini, jalan kematianpun berani ditapak. Al Hallaj, misalnya, seorang Sufi yang sangat terkenal dengan faham Wahdatul Wujud-nya ini rela menerima hukuman gantung akibat niatannya untuk menyingkap Wajah Tuhan. Sebuah niatan yang muncul berkat dorongan dari akumulasi rasa rindu yang sangat mendalam untuk bertemu dengan Kekasih Sejatinya itu (Najib, 1988).
Apa yang dialami Al Hallaj tersebut nyatanya mampu bermetamorfosa dan terus berlanjut hingga sekarang. Tak ada yang menyangkal, betapa besar kecintaan Soe Hok Gie terhadap Gunung, bahkan dalam salah satu puisinya, Hok Gie Pernah menulis, “Aku Mencintaimu Pangrango, Karena aku mencintai Keberanian Hidup” (Gie, 1966). Hampir sama dengan Al Hallaj, Kecintaan Hok Gie ini membawanya pada jalan kematian di Puncak Semeru. Dan Boleh jadi, kematian Hok Giemenyisakan isak tangis bagi sebagian kalangan, namun siapa yang tahu bahwa jalan inilah yang sebenarnya ingin ditapaknya, sebuah jalan yang menjadi impian terbesar Hok Gie, meninggal dalam dekapan sang Kekasih. Hok Gie pun Tersenyum.
Pasca kematiannya itu, tubuh tak bernyawa Hok Gie akhirnya dikebumikan di Tempat Pemakaman umum Menteng Pulo. Akan tetapi, Gunung punya perasaan, seperti halnya manusia. Mungkin karena itulah ia ingin bersatu dengan Pecintanya. Ia Berdoa, dan Tuhan pun menunjukkan Rahmat kuasa-Nya. Karena satu dan lain hal, Pemakaman Menteng Pulo digusur, Tubuh Hok Gie dipindah, tapi tak bertahan lama karna Tulang Belulang Hok Gie pada akhirnya  segera dikremasi lalu Abunya ditabur di Lembah Kasih Mandalawangi. Dan, terjadilah persatuan suci antara Hok Gie dengan kekasih yang sangat dicintainya itu, Gunung Pangrango.
“Aku mencintaimu Pangrango”, kata Hok Gie, dan Kecintaannya itu membawa Hok Gie pada Jalan Kematiannya. “Aku mencintaimu, sayang”, kataku, dan kecintaanku ini membawa Egoismeku pada jalan Ketiadaannya. Iya, Aku mencintaimu, dan karena itu Aku Membunuh Egoisme ku hingga aku bisa melebur dalam kekitaan yang abadi, kekitaan yang menyatukan aku dan kamu, kekitaan yang menghilangkan ke-aku-anku dan ke-kamu-anmu. Karena aku dan kamu adalah, Satu.
Untuk Riris. :)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Matinya Egoisme"

Post a Comment