Tentang Nama

“What’s in a name?” Kata Shakespeare, Apalah arti sebuah Nama. “That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” ungkapnya lebih lanjut. Barangkali Shakespeare benar, tapi tidak untuk Raden Soekemi. Ia dan orang Jawa kebanyakan, mempunyai pandangan lain tentang hal ini. Nama, bagi orang jawa, bukanlah sekedar kata tanpa arti, bukan sekedar ageman yang bisa diganti dengan mudah. Ada filosofi mendalam dibalik sebuah proses penamaan. Karena itu, ketika mendapati anaknya, Kusno, Sakit-sakitan, Raden Soekemi menilai ada ketidakcocokan antara Nama Kusno dengan Jalan kehidupan anaknya kelak, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengganti nama Putranya itu. Dan hari ini, kita mengenal anak sakit-sakitan itu dengan sebutan, Soekarno.

Polemik Nama
Nama, Menurut Hoffman (1993), dimaknai sebagai Label, Tanda, ataupun Identitas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Dari sini, nampak bahwa Hoffman mempunyai pandangan yang sedikit lebih maju daripada Shakespeare yang hanya menaruh Nama sebagai unsur sekunder yang terlepas dari apa yang Dinamainya. Ketika Shakespeare menafikkan peran “Nama” dan cenderung mengagungkan “Apa yang Dinamai”, Hoffman bergerak lebih maju. Melalui analisa Fungsional, Hoffman memberikan peran vital bagi “Nama” yang menurutnya memiliki fungsi strategis, bahkan penting, untuk mengidentifikasikan  “Apa yang Dinamai” –nya. Namun, pemaknaan Hoffman terhadap “Nama” tersebut masih terbatas dan belum mencakup hubungan kausal antara Nama dengan yang Dinamai. Melalui pertanyaan pendek semacam, “Apakah Nama hanya sekedar Label? Sekedar Panggilan? Dan Apakah Budi, misalnya, hanya sekedar Tanda yang digunakan untuk memberikan identitas bagi Seseorang dengan Wajah Lonjong, Rambut Cepak, Tinggi 164 cm, berkumis tipis?”, kita bisa menguji Pemaknaan dari Hoffman tersebut, dan bisa dipastikan bahwa Hoffman akan menjawab, “Iya”.
Seandainya pemaknaan Hoffman ini dipakai oleh Raden Soekemi dalam kasus Kusno, maka, kita akan mengenal Presiden Pertama Indonesia dengan Sebutan Bung Kusno, Bukan Bung Karno. Karena menurut Hoffman, Nama hanyalah pemberi Identitas. Tidak ada kaitan antara Nama dan Penyakit. Disinilah letak perbedaan antara Hoffman dengan Raden Soekemi dan dengan Orang Jawa Kebanyakan. Raden Soekemi melihat bahwa nama bukanlah sekedar Identitas, Bukan Sekedar tanda, Bukan Sekedar Label seperti apa yang diungkapkan oleh Hoffman. Tetapi, ada hubungan kausal antara Nama dengan yang dinamai, dimana Nama mampu mempengaruhi Alur Kehidupan Seseorang. Karena itu, bisa timbul adanya kecocokan dan ketidakcocokan antara Nama dan yang Dinamai. Ketika Ketidakcocokan itu terjadi, tubuh seseorang yang dinamai akan menolak dengan memberikan beberapa pertanda, misalnya Jatuh Sakit. Fenomena unik ini disebut oleh Orang Jawa dengan istilah, “Kabotan Jeneng” alias Keberatan Nama.
Masdan: Ismun du’aa’un
Pemaknaan Raden Soekemi terhadap Nama seperti apa yang tertulis di atas, sebenarnya merupakan salah satu citra dari keberhasilan, meminjam istilah Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam di Indonesia. Soekemi, barangkali tidak faham akan adagium Al Ismu Du’aaun yang diperkenalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dimana menurut beliau Rasulullah, Nama adalah Do’a. Tapi, Soekemi dengan pola kearifan Jawanya telah mahfum, bahwa dalam Nama, terkandung Pengharapan Besar akan Masa Depan Seseorang yang menyandang Nama itu. Karena itulah, pada akhirnya dia memilih Kata Soekarno, Karna yang Baik, sebagai nama bagi Putera Semata Wayangnya untuk menggantikan Kata, Kusno. Pun demikian dengan Keluarga Saya. Ketika memberikan Nama Ahmad Wildan Masyhari, mereka mempunyai pengharapan besar bahwa kedepannya Saya bisa menjadi Wildan (Lihat QS 56:17), Pelayan Masyarakat, yang Masyhari alias Masyhur. Tentunya dengan Sifat-sifat Ahmad, Nama Rasulullah yang diberikan secara Langsung oleh Allah SWT, yaitu ShidiqAmanahTabligh dan Fathanah. Sungguh pengharapan yang sangat Indah. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, nama Ahmad Wildan Masyhari tersebut kemudian tereduksi sedemikian rupa dan pada akhirnya berubah menjadi, Masdan.
Masdan sendiri bukanlah kata yang sekali jadi. Ia lahir, tumbuh dan berkembang dengan melewati proses evolusi yang panjang. Sejak pertama kali dicetuskan oleh Ibu Saya, ia menjadi panggilan yang lepas dan Bebas. Memang benar, Awalnya panggilan ini hanya dikenal dalam lingkup keluarga kecil saya. Namun, entah karena apa, Kata Masdan menyebar sehingga seisi kampung menjadi begitu akrab dengan panggilan itu dan kemudian mengaggapnya sebagai Penanda (Signifier) dari Petanda (Signified) berupa Anak Laki-Laki Pertama dari Ibu Mutammimah. Ketika umur saya beranjak, tingkat persebaran dari Panggilan Masdan ini juga ikut tumbuh. Suatu hari, di tahun pertama saya sekolah di Bangku SMA, salah seorang Teman Perempuan, yang kelak menjadi teman dekat saya, Putri Nurindra, menelpon Saya. Ketika itu, Ibu Saya yang kebetulan berada di dekat pesawat Telpon lah yang menerima Panggilan itu. Kemudian, karena telpon itu memang ditujukan untuk saya, beliau pun memanggil nama saya, namun dengan sedikit Berteriak, “Masdan, enek Telpon iki lho! (Masdan, ini ada Telpon)”, dan seketika, sayapun berlari dan mengambil alih telepon itu.
Esok Harinya, di Sekolah, Nama Masdan menjadi Populer. Selidik punya Selidik, Teman Saya yang kemaren menelpon Saya, ternyata mendengar Teriakan Ibu Saya, sehingga ia mulai menyebarkan kata Panggilan itu. Bermula dari Kejadian itulah, nama Masdan menyebar semakin luas, Sampai Sekarang. Walaupun begitu, ada beberapa Teman yang tetap setia memanggil saya dengan Sebutan Wildan. Mungkin, bagi mereka, Kata Wildan lebih bermakna, unsur Do’anya lebih jelas. Tapi, Kata Masdan sendiripun sebenarnya juga mengandung pengharapan yang besar. Masdan, yang pada awalnya berasal dari Proses Pemendekan dua Kata, Mas dan Wildan, telah mengalami proses evolusi yang intens, seperti yang tertulis di atas. Sehingga pada akhirnya kata Masdan mendapat bentuknya sendiri, terlepas dari dua kata awal pembentuknya itu. Kata Masdan yang sekarang, mempunyai satu Makna baru yang terbentuk dari Dua Suku Kata Penyusunnya. Yaitu kata Mas serta Kata Dan. Mas Berarti Gold, Sejenis Logam Mulia, sedangkan Dan merupakan Salah satu Kata Hubung atau Conjunction, yang memiliki fungsi untuk menghubungkan dua Kata atau dua Fenomena. Di Sini, bisa dimaknai Bahwa Nama Masdan memiliki Arti, Penghubung atau Jembatan Emas yang menghubungkan Antara Dunia Idea, Dunia Cita-Cita, Dengan Kenyataannya. Bung Karno pun, dalam Pidatonya di Depan Sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal dengan Pidato Lahirnya Pancasila, mengartikan kata Merdeka sebagai Jembatan Emas, seperti halnya Kata Masdan. Sehingga apabila pemaknaan Soekarno mengenai Merdeka dan Kemerdekaan sebagai Jembatan Emas itu digunakan untuk memaknai Kata Masdan, maka Masdan bisa diartikan pula sebagai Proses Memerdekakan. Sebuah Kata Kerja yang akan Selalu ada ketika Keterkungkungan dan Penjajahan juga masih ada.
Ya, itulah Masdan. Ketika orang-orang memanggil saya dengan sebutan itu, tanpa mereka sadari, mereka telah ikut mendo’akan saya agar saya bisa menggapai cita-cita yang termaktub dalam nama pendek tersebut. Karena Saya mempercayai kata-kata Allah ini, bahwa Udh’uuni Astajib Lakum, “Berdoalah Kepadaku, Niscaya akan Aku Kabulkan.” Maka, saya juga percaya, bahwa semakin banyak yang memanggil saya Masdan, semakin banyak pula do’a yang dipanjatkan, sehingga Semakin besar pula peluang untuk Dikabulkan. Jadi, Mulai dari Sekarang, Panggil saya, MASDAN. :)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tentang Nama"

Post a Comment